Virtual Reality Bakal Jadi Metode Pembelajaran di SMK

Virtual Reality Bakal Jadi Metode Pembelajaran di SMK

youngster.id - SmartEye start up rintisan PT Telkom sedang mengembangkan virtual reality (VR) versi beta. Core business baru ini ditargetkan mulai diuji coba oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di pertengahan tahun 2019.

Chief Technical Officer (CTO) Smarteye.id Fahmi Ramadani mengatakan, virtual reality akan diterapkan di beberapa SMK terdekat terlebih dahulu, yakni Jabodetabek dan sekitarnya. Jurusan-jurusan yang potensial untuk uji coba pertama kali, antara lain teknik mesin/otomotif, sipil/bangungan, dan arsitektur/desain interior.

“Siswa bisa melakukan simulasi terkait bidang kerjanya. Sebagai contoh, VR memungkinkan siswa jurusan teknik dapat melihat mesin dari berbagai sudut pandang (atas, bawah, kiri, dan kanan). Bisa pula memutar mesin di udara, zoom in, dan zoom out. Terlebih lagi, siswa juga bisa melihat bagian dalam mesin, dan mempreteli komponen-komponen mesin. Seolah, mesin tersebut terlihat transparan. Bahkan, bisa melihat aliran fluida di dalamnya,” ungkap Fahmi dalam keterangannya, Selasa (2/1/2019) di Jakarta.

Ia menambahkan, siswa juga bisa mensimulasikan mesin dalam kondisi menyala untuk melihat getaran dan merasakan suaranya.

“Karena ini Virtual Reality, kemungkinan pengembangan kontennya hampir tidak terbatas. Yang perlu dan akan kami lakukan saat ini adalah berdiskusi dengan pihak-pihak terkait terutama dari bidang pendidikan mengenai bentuk apa yang paling dibutuhkan dalam penggunaan VR dan bisa diterima oleh pelajar,” pungkasnya.

Dibandingkan dengan pengadaan alat praktikum yang memerlukan biaya cukup besar, Virtual Reality dari SmartEye menawarkan konten yang dapat diduplikat dan digunakan di banyak sekolah sekaligus, sehingga terbilang lebih efisien.

“Di SMK otomotif, mesin yg harus dipelajari ada banyak. Kalau semua SMK harus membeli semua jenis mesin tersebut, biayanya akan mahal sekali,” pungkasnya.

Sebelumnya VR dari SmartEye digunakan oleh beberapa manufaktur untuk melatih karyawannya di bidang safety, pengenalan lingkungan pabrik, dan lain-lain. Dari situlah, SmartEye terinspirasi untuk memperluas cakupannya di bidang pendidikan.

“Untuk jenis VR headset yang digunakan, kebetulan tahun ini produsen headset Oculus akan launch produk barunya, Oculus Quest. Kita menargetkan untuk memakai Oculus Quest tersebut, di samping headset Oculus Go yang sekarang sudah ada di pasaran,”ujarnya.

Dalam pembuatannya, tools software yang digunakan adalah Unity Engine. Sementara hardwarenya menggunakan Oculus Go, Oculus Rift, dan Leap Motion sensor.

Fahmi mengemukakan, untuk skema pembiayaannya, SmartEye berupaya menekan cost di setiap SMK sekecil mungkin. “Saat ini kami sedang mengupayakan pembiayaan dari berbagai sumber. Porsi biaya terbesar itu ada di pembuatan konten-konten edukasinya,” katanya.

Maka, demi tercapainya perkembangan mutu pendidikan di Indonesia, Fahmi berharap semua pihak, terutama Kemendikbud, sekolah-sekolah, dan industri lainnya dapat bekerjasama untuk merumuskan materi apa yang akan dimasukkan dalam bentuk VR.

“Ini pekerjaan yg cukup besar, yaitu pemanfaatan teknologi terbaru untuk membantu proses pendidikan. Kami berharap partisipasi dan dukungan dari banyak pihak terutama Kemendikbud dan sekolah yang tertarik untuk jadi pilot/tempat percobaan pertama project ini. Selain itu, industri-industri pun diharapkan bersedia menyediakan akses ke sumber materi (misalnya mesin) untuk dijadikan bahan ajar berbasis VR pertama di Indonesia,” pungkasnya.

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL