Tren Media Sosial yang Perlu Diperhatikan di 2019

Tren Media Sosial yang Perlu Diperhatikan di 2019

youngster.id - Platform media sosial telah menjadi saluran komunikasi di berbagai kalangan. Dengan dimulainya tahun baru, saatnya melihat tren yang muncul di media sosial. Apalagi semakin banyak merek yang bergantung pada platform ini untuk menjangkau audiens target mereka.

Harus diakui perhatian konsumen tersebar di berbagai platform sosial, belum lagi aplikasi, dan pengalihan online lainnya. Seperti apa saja yang kira-kira akan mempengaruhi pengguna media sosial? Apa artinya bagi pemasaran merek? Dan apa saja yang harus dilakukan agar tidak ketinggalan zaman dan tetap relevan di 2019?

Menurut lansiran dari Entrepreneur.com (3/1/2019), berikut adalah 5 tren media sosial teratas yang perlu diperhatikan di tahun baru:

Bangun kepercayaan pada platform media sosial

Platform media sosial terus tumbuh setiap tahun, hal itu dibuktikan dengan Facebook memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif setiap bulan. Namun, gambarnya tidak sepenuhnya cerah. Kepercayaan konsumen di media sosial tersebut pun sedang goyah.

Oleh karena itu, suatu merek perlu mencari cara untuk membangun kepercayaan konsumen. Hal itu berarti merek harus berfokus pada cara-cara untuk terhubung langsung dengan audiens secara otentik. Merek juga harus paham bahwa audiens banyak yang tidak suka terus menerus dibanjiri iklan.

Isi media sosial harus ada unsur bercerita

Popularitas media sosial berakar pada kenyataan bahwa itu memungkinkan setiap pengguna untuk berbagi pengalaman hidupnya, pada siapa saja yang mereka kehendaki. Instagram, snapchat, dan facebook merangkul tren ini, dan mengubah cara kita mengonsumsi konten media sosial.

Bangun hubungan antara pengguna dan produk

Seiring dengan mengasah cerita manusiawi mereka, bisnis perlu membangun narasi strategis di belakang merek mereka. Naratif menangkap momen dan pengalaman yang dibagikan antara pengguna dan produk; itu adalah percakapan yang sedang terjadi, dan sering kali mencoba membuat perubahan yang lebih luas, dan lebih positif.

Narasi ini dapat didistribusikan melalui media sosial dan media digital, dan mereka mencerminkan apa yang dikatakan komunitas merek tentang mereka. Jika sebuah merek dapat membangun cerita yang lebih besar, itu akan memiliki peluang keberhasilan yang lebih baik. Kualitas dan kreativitas melebihi kuantitas

Pemasar sering memiliki reaksi spontan terhadap tren dengan membanjiri platform dengan konten yang biasa-biasa saja dan tidak bersemangat dengan harapan mengendarai gelombang tren. Calon pelanggan bereaksi dengan mendengarkan dan dengan cepat mengabaikan pesan di bawah standar.

Ambang batas untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan pelanggan telah tumbuh secara eksponensial. Pemasar yang berharap untuk mendapatkan pertimbangan konsumen harus bersedia bekerja ekstra dalam menciptakan konten yang menarik.

Intinya adalah, agar berdampak, merek harus memiliki tujuan dan kreatif. Lebih sedikit konten, jika itu dibuat dengan bijaksana dan diposisikan dengan baik, akan memiliki dampak yang lebih besar daripada banyak konten yang tidak terinspirasi, tangan berat atau dilihat sebagai dangkal atau membosankan.

Libatkan personal branding

Personal branding adalah suatu keharusan di media sosial. Menempatkan wajah manusiawi yang nyata pada sebuah merek adalah kunci dalam membangun kepercayaan dan kesetiaan, terutama untuk bisnis kecil yang relatif tidak dikenal. Personal branding memberi bisnis elemen manusia yang secara alami akan menghubungkan pelanggan dan membuat merek itu tampak lebih bisa diterima. Bisnis yang belajar menumbuhkan elemen manusia mereka akan memiliki keuntungan nyata dibandingkan mereka yang bersembunyi di balik logo.

Salah satu tren populer dalam memanusiakan bisnis adalah mempromosikan merek pribadi pemilik bisnis atau pemimpin tingkat tinggi. Ini dapat dilakukan melalui blogging tamu, podcast, dan webinar. Memberi publik pandangan yang dekat dari pemimpin perusahaan dapat memperkuat reputasi mereknya.

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL