Teknologi Timbulkan Kesenjangan Hubungan Generasi Muda

Teknologi Timbulkan Kesenjangan Hubungan Generasi Muda

youngster.id - Teknologi telah mengubah cara kita dalam menjalani hidup, bahkan lebih dari sekadar penambahan biaya finansial. Sebuah survei terbaru Kaspersky telah menemukan bahwa lebih dari sepertiga (35%) orang-orang yang berusia 55-an ke atas mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan teknologi jika itu tidak dibantu oleh anak-anak mereka.

Akibat inilah mereka secara otomatis dianggap sebagai anggota paling muda di keluarga yang berkewajiban untuk mendukung segala jenis hal teknis tentang teknologi, dan dapat menyebabkan munculnya beberapa permintaan seperi “Bisakah kamu membantu untuk memperbaiki internet?”,”Bisakah kamu memberitahu cara mengunggah ke cloud?”, atau “Bisakah kamu cek seberapa aman aplikasi perbankan online saya?”.

“Tidak semua orang tumbuh dengan teknologi – dan oleh karena itu generasi yang lebih tua mungkin merasa tidak nyaman menggunakannya layaknya milenial, atau mereka yang ahli dalam teknologi. Tetapi kami ingin semua orang menikmati peluang yang dapat dan mampu dilakukan oleh teknologi dalam kehidupan. Kami berkomitmen untuk memberdayakan semua orang dengan informasi untuk melakukannya. Pengetahuan yang tepat akan memungkinkan pengguna dari segala usia untuk dapat melakukan aktivitas online mereka dengan percaya diri dan bersemangat menyambut  masa depan” kata Alexander Moiseev, Chief Business Officer, Kaspersky melalui keterangan persnya Jumat (14/6/2019).

Saat generasi muda mengumpulkan segala usaha untuk membeli rumah, memiliki anak, dan memajukan karir mereka, tuntutan dari anggota keluarga yang kewalahan terhadap teknologi dan permintaan konsultasi gratis terkadang melewati batas terlalu jauh. 

Sementara lebih dari setengah milennial (55%) merasa berkewajiban untuk memberikan dukungan teknis sesuai permintaan kerbat lebih tua, seperempat (25%) mengatakan bahwa mereka secara aktif menghindari anggota keluarga yang mereka pikir akan meminta bantuan.

Dengan setengah (52%) orang yang berusia 55 tahun ke atas mengaku mereka tidak memiliki pengetahuan tentang teknologi, empat-dalam-sepuluh (41%) akan menelepon anak-anak mereka atau anggota keluarga muda lainnya untuk mendapatkan dukungan TI jarak jauh. Sebesar 18% kehilangan dukungan teknis anak-anak mereka, melebihi perusahaan kehilangan mereka (si orang tua) saat mereka tidak di kantor. 

Demi memenuhi kebutuhan mereka dalam mendapatkan bantuan teknologi, 15% dari orang-orang yang berusia 55 ke atas bahkan menyuap anggota keluarga yang lebih muda ini untuk dukungan.

Ketergantungan yang berlebihan pada kaum milenial untuk menjadi pahlawan dalam dukungan teknologi bahkan mempengaruhi hubungan keluarga, hingga kebiasaan mereka dalam memberikan hadiah. Hampir sepertiga (30%) menghindari membeli hadiah berupa teknologi kepada anggota keluarga yang lebih tua, karena tahu bahwa merekalah yang akan diharuskan untuk mengaturnya.

“Kemajuan dramatis teknologi mulai dari dalam mobil, kantor, dan lingkungan sosial telah menantang semua generasi untuk terus belajar cara memanfaatkannya. Mereka yang berada di paruh kedua kehidupan menemukan perubahan yang luar biasa dan seringkali takut ditipu, diekspos atau ketakutan akan menjadi target dari perubahan luar biasa tersebut, dan seringkali milenial lah yang terpaksa datang untuk menyelamatkan. Dipersenjatai dengan pengetahuan, millenial dianggap tidak memiliki masalah berarti dalam teknologi dan sedikit lebih terikat pada inner Bill Gates,” tambah Kathleen Saxton, psikoterapis.

Kaspersky berkomitmen untuk memutus siklus kesenjangan tersebut dan memberikan waktu kembali kepada milenial yang harus semakin memberikan dukungan teknologi berkelanjutan bagi anggota keluarga, sembari melengkapi generasi lebih tua dengan alat untuk membantu diri mereka sendiri. Laporan lengkap ‘Bisakah kamu?’ dapat diakses di sini. Kaspersky juga telah membuat serangkaian panduan ‘Bisakah kamu’ untuk memberdayakan generasi yang lebih tua, sehingga generasi milenium dapat mengambil kembali kendali atas kehidupan mereka. Laporan tersebut juga dapat diakses di sini.

Untuk diketahui, metode Penelitian Sebuah survei online terhadap 11.000 konsumen dari 13 negara dengan kuota perwakilan nasional untuk setiap kelompok dari jenis kelamin, usia dan wilayah.

FAHRUL ANWAR

KATEGORI ARTIKEL