Surat Utang Negara Ritel Bertebaran di Pasar Obligasi

Surat Utang Negara Ritel Bertebaran di Pasar Obligasi

Penjualan surat utang ritel yang selalu mencapai target indikatif pemerintah, membuat pemerintah tetap yakin akan rutin menawarkan surat utang ritel.

Kali ini Finansialku akan membahas berita mengenai Pasar Obligasi Ritel. Agar lebih jelas simak penjelasannya berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Pasar Obligasi Ritel

Saat ini surat utang Negara ritel masih terus mencuat. Setelah penerbitan Saving Bond Ritel (SBR) seri SBR006, pemerintah bersiap menawarkan obligasi ritel pada awal bulan depan yang bertajuk Sukuk Tabungan seri ST004.

Tahun ini pasar obligasi memang tengah dibanjiri obligasi ritel. Selain ST004, masih ada lima SBN ritel lainnya yang akan diluncurkan pemerintah pada tahun 2019.

Berikut ini adalah jadwal penerbitan SBN Ritel 2019:

Instrumen

Jadwal Penerbitan (tentatif)

ST004

2-16 Mei

SBR007

11-25 Juli

ST005

8-22 Agustus

SBR008

5-19 September

ORI16

10-24 Oktober

ST006

6-20 November

Menurut beberapa analis optimis jika penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel tahun ini akan laris manis meskipun dihadang oleh sejumlah tantangan.

Ariawan selaku analis obligasi BNI Sekuritas menilai ada sejumlah kelebihan yang membuat SBN ritel masih menarik di mata investor.

Alasan pertama karena tawaran kupon SBN ritel di atas rata-rata bunga deposito perbankan. Melansir dari data Kontan, rata-rata bunga deposito rupiah perbankan masih ada di level 6,1%.

SBR005 Masih Sepi Peminat, Penjualan di Mitra Tak Jauh dari Target 01 - Finansialku

[Baca Juga: Ketahuilah Keuntungan Berinvestasi Surat Utang Negara Supaya Anda Membawa Keuntungan Maksimal]

 

Angka ini lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat kupon minimum yang diberikan SBR006 sebesar 7,95%.

Kupon itu berasal dari suku bunga acuan atawa Bank Indonesia 7-Day Repo Rate (BI 7-DRR) yang berlaku pada saat penetapan kupon yaitu sebesar 6,00% ditambah spread tetap 195 bps (1,95%)

Kedua, pajak SBN ritel lebih rendah ketimbang instrumen sejenis. Ariawan mengatakan:

“Coba saja dibandingkan dengan pajak deposito. Pajak SBN ritel hanya 15%, sementara pajak deposito 20%.”

Ketiga, SBN ritel juga dijamin 100% oleh pemerintah. Sedangkan deposito hanya dijamin sampai Rp2 miliar oleh LPS.

Namun meski begitu, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail menilai daya tarik SBN ritel akan meredup dan peminatnya akan menurun. Hal ini dikarenakan tawaran imbal hasilnya sudah di bawah 8%.

Turunnya peminat obligasi ritel mulai terlihat, misalnya dari jumlah peminat SBR006 hanya Rp2,26 triliun. Nilai ini di bawah peminat SBR005 di bulan Januari yang mencapai Rp4,01 triliun.

Pemerintah kini tidak bisa leluasa dalam menaikan kupon SBN ritel guna untuk menggaet investor. Pasalnya, yield Surat Utang Negara (SUN) sedang dalam tren menurun seiring perbaikan pasar obligasi.  Ia mengatakan:

“Kalau kupon SBN ritel terus dinaikan di atas harga pasar, dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi pasar sekunder obligasi Indonesia.”

Yield SUN seri acuan 10 tahun yakni FR0078 sudah berada di area 7,5% yang jika dibandingkan kupon SBR005 itu lebih rendah.

Pemerintah pun perlu menyadari penerbitan SBN ritel secara berdekatan dapat mengurangi jumlah peminat surat utang Negara ritel. Ahmad mengatakan:

“kondisi ini menyebabkan oversupply.”

 

Dengan berkurangnya jumlah penawaran, ini juga merupakan akibat dari strategi menggiurkan dari perbankan untuk menggaet dana pihak ketiga dalam jumlah besar. Cara ini menyebabkan likuiditas makin mengetat.

Oleh karenanya, Ahmad menilai agak sulit bagi pemerintah untuk memperoleh angka penjualan yang tinggi dari instrument tersebut dalam beberapa waktu kedepan.

Kendati demikian, Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jendral Pengelolaan, Pembiayaan dan risiko (DJPPR) Kementrian Keuangan Loto Srinaita Ginting selalu optimis SBN ritel bakal diminati.

Hal ini karena, investor baru yang membeli SBN ritel terus bertambah dan adanya basis investor domestik yang bertambah banyak.

 

Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) 2018-2019

Tahun

Seri SBN Ritel

Nilai Penawaran

Investor

Kupon

2019

SBR005

Rp4,01 triliun

16.966

8,15% (floating floor)

ST003

Rp3,12 triliun

13.932

8,15% (floating floor)

SR011

Rp21,12 triliun

35.025

8,05% (fixed rate)

SBR006

Rp2,26 triliun

9.520

7,95% (floating floor)

2018

ST002

Rp4,94 triliun

16.477

8,3% (floating floor)

ORI015

Rp23,37 triliun

41.306

8,25% (fixed rate)

SBR004

Rp7,32 triliun

21.672

8,05% (floating floor)

SBR003

Rp1,92 triliun

7.642

6,80% (floating floor)

SR010

Rp8,43 triliun

17.922

5,90% (fixed rate)

Ariawan menambahkan, selama investor masih memiliki dana idle maka ia akan memanfaatkan terbitkan ST004. Ariawan mengatakan:

“Karena ST merupakan instrumen yang tidak bisa diperdagangkan maka tidak akan terpengaruh pada likuiditas pasar sekunder yang biasanya menurun jelang bulan Ramadan.”

Oh Iya, Ada baiknya Anda membaca ebook Perencanaan Keuangan untuk usia 30an di bawah ini secara GRATIS, agar kondisi keuangan Anda tetap stabil dan Anda bisa mencapai tujuan keuangan Anda dengan tepat sasaran.

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

 

Bagaimana tanggapan Anda setelah membaca berita di atas? Berikan pendapatan Anda pada kolom komentar di bawah ini.

Ayo bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat.

 

Sumber Referensi:

  • Danielisa Putriadita. Pasar Obligas Digelontori Surat Utang Negara Ritel. Tabloid Kontan
  • Dimas Andi. 22 April 2019. Penjualan SBN ritel Kemungkinan Tidak Akan Tinggi. Investasi.Kontan.co.id – http://bit.ly/2IDwfE8

 

Sumber Gambar:

  • Surat Utang Negara – http://bit.ly/2IO1ifH

 

KATEGORI ARTIKEL