Menanggapi Resesi Ekonomi Global yang Terjadi, Manakah yang Termasuk Saham Defensif?

Menanggapi Resesi Ekonomi Global yang Terjadi, Manakah yang Termasuk Saham Defensif?

Salah satu strategi diversifikasi saham yang bisa dilakukan dalam menanggapi resesi ekonomi global yang terjadi ialah dengan memiliki saham defensif. Dari sekian daftar saham, manakah yang termasuk saham defensif?

Mari simak ulasan selengkapnya melalui artikel Finansialku berikut ini. Selamat membaca!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Pertumbuhan Ekonomi yang Berujung ke Perlambatan

Pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik tentu menjadi salah satu tujuan di setiap negara. Begitu juga dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Hal ini tentu dipengaruhi oleh banyak hal, tak terkecuali pertumbuhan ekonomi secara global di seluruh negara di dunia.

Sayangnya, dilansir dari Koran Kontan, terdengar kabar bahwa pertumbuhan ekonomi global saat ini nyatanya akan melaju ke level terlemah dalam tiga tahun pada 2019 dan menyebabkan ketidakpastian ekonomi global yang akan semakin meningkat.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia yang telah diselenggarakan di Swiss menjelaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi global di 2019 hanya sebesar 3,5% saja.

Bila dibandingkan dengan perkiraan yang telah dilakukan pada bulan Oktober 2018 lalu, maka persentase ini turun sebesar 0,2% dari yang diperkirakan sebesar 3,7%.

Sementara itu, IMF sebelumnya telah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global di tahun 2020 akan tumbuh sebesar 3,6%.

Maka, hasil akhir tersebut sama-sama menunjukkan penurunan, meskipun dari perkiraan IMF sebesar 0,1% dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Saham Defensif di Saat Resesi Ekonomi Global 02 - Finansialku

[Baca Juga: Driver Ojek Online Mau Beli Motor Baru? Begini Cara Cepat Memilikinya]

 

Perkiraan atau prediksi tersebut dibuat setelah mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkembang seperti China, Jepang, Eropa, dan lainnya yang sama-sama melemah.

Melihat keadaan ini tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para pelaku pasar, tak terkecuali yang berasal dari Indonesia.

Meski begitu, Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia, Alfred Nainggolan menilai, kondisi ekonomi di berbagai negara saat ini masih jauh dari adanya resesi.

“Untuk saat ini, lebih tepat jika memakai istilah perlambatan ekonomi.”

 

Di sisi lain, terdapat data yang menunjukkan daftar Saham Pencetak Cuan Terbesar di Sejumlah Indeks Konstituen BEI:

 

#1 IDX (IHSG)

SahamReturn YTDSIMA193,48%INRU77,14%AGRS68,91%BUMI62,41%ENRG60,00%

#2 LQ45 (LQ45)

SahamReturn YTDINDY29,34%PPRO27,98%MNCN23,19%MEDC20,44%WSKT18,75%

#3 KOMPAS100 (KOMPAS100)

SahamReturn YTDBUMI62,14%BNLI44,00%BMTR43,80%ISAT41,25%LEAD36,00%

#4 KEHATI (SRI-KEHATI)

SahamReturn YTDTINS22,52%WSKT18,75%BDMN18,42%PGAS16,04%JSMR15,42%

#5 JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)

SahamReturn YTDINDY29,34%PPRO27,98%SMRA20,50%LPPF17,86%ADRO16,05%

#6 BISNIS27 (BISNIS27)

SahamReturn YTDBDMN18,42%ADRO16,05%PGAS16,04%CPIN14,88%TKIM14,41%

#7 IDX (SMC Liquid)

SahamReturn YTDBNLI44,00%BNGA30,60%TBIG30,56%PPRO27,98%MNCN23,19%

 

Indonesia Aman dari Perlambatan

Alfred pun melanjutkan pembicaraannya dengan menilai bahwa perlambatan ekonomi tidak akan terjadi di Indonesia. Justru, perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh, bahkan lebih tinggi di tahun ini, yakni sekitar 5,2% hingga 5,3%.

Kondisi tersebut merupakan hasil perkiraan yang telah tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini yang menguat sampai 4,42% ke level 6.468,56.

Melihat hasil data yang mengalami kenaikan ini, kini IHSG dinyatakan menjadi indeks saham terbaik kedua di Asia Tenggara dan ketiga di Asia Pasifik.

 

Masih dilansir dari Koran Kontan, Director Head of Equity Capital Market Samuel International, Harry Su, mengakui bahwa IHSG merupakan salah satu indeks dengan performa terbaik di kawasan Asia-Pasifik selama 12 bulan terakhir.

Ia melihat dari sejumlah pihak asing yang terus masuk ke pasar modal Indonesia dengan nilai net buy asing yang telah mencapai Rp10,97 triliun sepanjang tahun ini.

“Namun, saya juga berpandangan pasar harus tetap menyesuaikan dengan proyeksi ekonom atau analis tekait pertumbuhan ekonomi di 2019.”

 

Alasan saran tersebut karena adanya keterkaitan antara kinerja ekspor dengan perlambatan ekonomi yang terjadi di negara lain, terutama kinerja para emiten berorientasi ekspor.

Namun hal ini tidak berlaku pada emiten yang bergantung pada penjualan domestik. Terbukti dari perkiraan para analis yang percaya bahwa pertumbuhan kinerja masih akan tetap stabil.

Karena itu, analis menyarankan agar investor menambah saham yang beriorientasi domestik dalam portofolionya.

 

Gratis Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

 

Sejumlah Saham Defensif yang Dianjurkan

Setelah melihat perkiraan dari hasil para analis, akhirnya Alfred pun menyebutkan beberapa contoh emiten yang bergantung pada penjualan domestik, seperti saham-saham jasa keuangan dan konsumsi.

Misalnya saja, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Di sektor finansial, investor bisa melirik saham bank besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

“Hanya saja, valuasi saham defensif ini cenderung tinggi, karena mereka saham premium.”

 

Artinya, saham tersebut memiliki potensi melemah

Hal ini juga mengundang perhatian dari Direktur Investas Saran Mandiri, Hans Kwee, yang mengungkapkan bahwa ia juga memilih saham sektor konsumer sebagai saham defensif saat ekonomi global melemah.

Alasannya karena selama ini, kinerja emiten di sektor tersebut banyak ditopang oleh permintaan dalam negeri. Apalagi melihat adanya harapan daya beli yang naik di tahun pemilu ini.

Indeks Saham LQ45 dan IDX30 01 - Finansialku

[Baca Juga: WASPADA Dengan Modus Pinjaman Online! Jangan Sampai Terjadi Kepada Anda!]

 

Tidak hanya itu, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto ikut merekomendasikan investor agar memilih saham-saham emiten yang memiliki pangsa pasar kuat di dalam negeri, atau produknya sudah menjadi andalan masyarakat di seluruh Indonesia. 

Beberapa rekomendasi tersebut menjurus para investor untuk membeli saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga Rp55.000 per saham, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) Rp4.000 per saham, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Rp85.000 per saham, dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) Rp3.000 per saham.

 

Apa saham defensif yang menjadi pilihan Anda? Bagikan pendapat dan komentar Anda melalui kolom di bawah ini. Jangan lupa untuk bagikan informasi penting ini kepada sesama investor lainnya. Terima kasih!

 

Sumber Referensi:

  • Intan Nirmala Sari & Rezha Hadyan. 23 Januari 2019. Menyelekasi Saham Anti Resesi Global. Koran Kontan.

 

Sumber Gambar:

  • Saham Defensif di Saat Resesi Ekonomi Global 1 – https://goo.gl/RTF4RS
  • Saham Defensif di Saat Resesi Ekonomi Global 2 – https://goo.gl/tYB3MM
KATEGORI ARTIKEL