Pro Kontra Bekerja Secara Remote: Lebih Bebas atau Semakin Mengikat?

Bekerja secara remote alias tidak perlu datang ke kantor belakangan ini tampaknya menjadi pilihan bagi anak-anak millennial. Generasi millennial yang cenderung lebih bebas daripada generasi terdahulu membuat pola pikir pekerja millennial lebih mengutamakan fleksibilitas kerja. Bekerja bisa di mana saja, mau di rumah, kafe, coworking space, atau bahkan saat liburan. Meski terkesan menyenangkan, bekerja secara remote menimbulkan pro dan kontra tersendiri. Ada yang setuju, tetapi ada pula yang mencemaskan dampak negatif dari sisi kesehatan. Berikut adalah beberapa pandangan tentang bekerja secara remote yang bisa menjadi referensi.

Fleksibilitas Kerja Bisa Menjadi Jerat Tersendiri

sumber: asuresoftware

Bagi generasi millennial, poin plus dari bekerja secara remote adalah fleksibilitas. Tidak ada aturan jam kerja, presensi alias kehadiran kerja bukan hal wajib, dan pastinya bekerja bisa di mana pun. Namun, benarkah fleksibilitas ini benar-benar sebuah keuntungan?

Tanpa rasa tanggung jawab dan disiplin tinggi, fleksibilitas bisa menjadi jerat tersendiri ketika pekerja remote cenderung terlalu santai. Bagaimana pun juga, sebuah pekerjaan tetap memiliki goal yang harus dicapai. Bagi pekerja remote yang masih belum bisa memanajemen diri, bekerja tanpa monitoring langsung dari atasan bisa berdampak kurang baik bagi perusahaan.

Baca Juga: Beberapa Gangguan saat Bekerja Remote Ini Bisa Mengurangi Produktivitas

Bekerja Secara Remote Kadang Bisa Tak Kenal Waktu

sumber: pinterest

Bagi pekerja sendiri, cara kerja ini bisa menjadi bumerang karena jam kerja yang seolah-olah tak terbatas. Memang sih pekerja remote bisa menentukan sendiri mau bekerja dari jam berapa. Namun, tak jarang juga banyak pekerja remote yang terlalu asyik bekerja hingga larut malam demi mengejar deadline.

Secara kesehatan, hal ini tentu tidak baik karena beberapa pekerja remote bahkan kadang lupa waktu makan dan istirahat. Bagaimana pun juga tubuh juga membutuhkan istirahat di sela-sela bekerja. Belum lagi jika akhir pekan juga digunakan untuk bekerja, terutama bagi pekerja remote di bidang media sosial. Rasanya perlu lebih bijak mengatur waktu ya.

Kunci Bekerja Secara Remote adalah Manajamen Waktu

sumber: flexjobs

Dari dua masalah tadi, bisa disimpulkan bahwa kunci bagi pekerja remote adalah manajemen waktu. Apalagi bagi pekerja remote yang memiliki beberapa klien berbeda. Bisa dibayangkan kan, betapa banyaknya pekerjaan yang harus dia kerjakan dalam satu hari?

Meski terkesan bebas, pekerja remote perlu membuat jadwal yang memuat jam kerja, istirahat, hingga makan. Selain itu, pastikan goal kerja setiap hari agar tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal di sekelilingnya, salah satunya adalah media sosial. Dengan belajar berdisiplin dalam bekerja, pekerja remote dapat benar-benar merasakan nikmatnya fleksibilitas kerja.

Request dan Monitoring Pekerjaan yang Bisa Sewaktu-Waktu, Baikkah?

sumber: remote

Satu lagi kendala dalam bekerja secara remote adalah request pekerjaan yang bisa hadir sewaktu-waktu. Bahkan, kini banyak pekerjaan yang dikoordinasikan lewat grup chatting. Pekerjaan bisa hadir tanpa mengenal waktu dan ini tentunya kurang baik.

Secara tidak langsung, kehidupan pribadi dan sosial pekerja remote dapat terganggu ketika load pekerjaan yang mendadak datang tiap hari. Memang kemudahan teknologi membuat pekerjaan lebih mudah ditransfer lewat grup chatting, tetapi jika terlalu berlebihan tentu tidak baik. Bukankah pekerja remote juga membutuhkan “me time” dan rehat dari pekerjaan?

Nah, kira-kira pekerja remote menjadi lebih bebas atau semakin terikat? Semuanya kembali ke pilihan masing-masing orang. Selama bekerja secara remote tidak menganggu kinerja, kesehatan, hingga working life balance; rasanya sah-sah saja bekerja dengan sistem ini.

KATEGORI ARTIKEL