Penjualan Online Naik 105% Selama Ramadan

Penjualan Online Naik 105% Selama Ramadan

youngster.id - Riset yang dilakukan Criteo mengungkapkan, kinerja penjualan online yang kuat di Indonesia cenderung mengalami lonjakan menjelang dan selama Ramadan tahun lalu, tepatnya pada 15 Mei-14 Juni 2018. Bahkan, penjualannya meningkat sebesar 105% selama berada di puncak penjualan pada 5 Juni 2018.

Biasanya, penjualan cenderung meningkat 10 hari menjelang Ramadan dan bertahan hingga dua minggu sebelum Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan Ramadan.

“Semua peningkatan aktivitas ritel ini memberikan peluang bagi para pengecer untuk secara luas mempromosikan pendekatan omnichannel guna mengoptimalkan penjualan dan menggunakan banyak pilihan demi kemudahan pembayaran (pengiriman dengan pembayaran tunai mendominasi di negara-negara di Timur Tengah), termasuk opsi yang sangat penting untuk membeli dan membayar dengan menggunakan smartphone di segala transaksi,” ungkap Ben Marvin Tan, Country Manager Indonesia dari Zebra Technologies dalam keterangannya, Senin (27/5/2019)

 Menurut dia, lonjakan ritel ini semakin menekankan perlunya pengalaman berbelanja yang dipersonalisasi guna memenuhi pertumbuhan ekspektasi pembeli, baik di toko maupun online, sementara mitra rantai pasokan dan pegawai lini depan juga harus mengelola peningkatan permintaan ini.

“Ekonomi on-demand menciptakan ekspektasi pembelanja yang lebih tinggi lagi sehingga semakin menambah tuntutan terhadap para pengusaha ritel selama periode ini. Konsumen ‘yang selalu terhubung’ memiliki ekspektasi yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Harapan ini termasuk menginginkan opsi pembelian dan pengiriman terbaru, pengiriman yang lebih cepat dan pengalaman online yang lancar,” ucapnya.

Studi Zebra’s Global Shoppers menunjukkan sebagian besar pengambil keputusan di industri ritel yang disurvei (83%) dan pegawai toko (74%) sepakat bahwa pembeli dapat merasakan pengalaman yang lebih baik jika mereka dilayani oleh pegawai toko yang diperlengkapi dengan teknologi. Para pembeli pun setuju; lebih dari setengah pembeli (51%) meyakini bahwa mereka lebih terhubung dengan smartphone mereka daripada dengan pegawai toko.

“Demi mengantisipasi banyaknya aktivitas belanja yang akan terjadi secara online, para pengecer dan penyedia logistik telah dengan cepat meningkatkan penawaran pengiriman mereka. Konsumen tidak mau mengambil risiko hilangnya pengiriman langsung ke rumah sehingga pengiriman “click and collect” diperkirakan akan meningkat. Banyak pengusaha ritel tradisional mendorong pengiriman “click and collect” berbasis toko melalui pengambilan di toko yang gratis atau lebih murah guna mendorong penjualan tambahan,” papar Ben.

Pebisnis ritel juga berfokus pada strategi baru, yaitu ‘pengiriman dari toko’, yang menggunakan lokasi toko mereka untuk berfungsi ganda sebagai pusat fulfillment online untuk pengiriman dan pengembalian e-commerce.

Studi Future of Fulfillment Vision yang dilakukan oleh Zebra Technologies menemukan 76% pengusaha ritel saat ini menggunakan inventaris toko untuk memenuhi pesanan online. Enam dari 10 memperkirakan jumlah itu akan terus bertumbuh dan diperkirakan 96 % pengecer akan mendedikasikan pusat fulfillment untuk pesanan online di tahun 2028.

Dengan meningkatnya ekspektasi pelanggan untuk pengiriman di hari yang sama dan bahkan dalam kurun waktu dua jam, memenuhi pesanan digital dari lokasi penjualan offline merupakan satu strategi yang mulai dilakukan oleh pelaku ritel, dan langkah ini akan segera menjadi syarat keberhasilan utama.

 Studi Global Shoppers dari Zebra menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat (76%) pembuat keputusan ritel setuju bahwa menerima dan/atau mengelola pengembalian pesanan online merupakan tantangan yang signifikan.

 Pertumbuhan e-commerce juga telah menyebabkan peningkatan volume pengembalian global dari 400 miliar dollar AS menjadi 1,8 triliun dollar AS di Amerika Serikat yang mendorong biaya ritel yang lebih tinggi. Guna mengatasi hal tersebut, hampir setengah dari pengecer (48%) telah menawarkan pengiriman pengembalian gratis dan sebanyak 27% berencana untuk menawarkan pengembalian ini di tahun 2019.

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL