Milenial Gemari Berdonasi Lewat Digital

Milenial Gemari Berdonasi Lewat Digital

youngster.id - Perkembangan teknologi telah mendorong masyarakat Indonesia, terutama kalangan milenial, untuk berdonasi baik sedekah maupun zakat secara digital. Beberapa lembaga amil zakat dan fintech pun mencatat, donasi secara digital naik lebih dari dua kali lipat sejak 2017.

Hal ini didorong oleh fitur donasi di e-commerce dan teknologi finansial (fintech). Salah satu lembaga yang mencatat kenaikan donasi melalui saluran online adalah Dompet Dhuafa.

“Donasi digital mengalmai kenaikan hingga 200% sejak 2017,” kata Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi Imam Rulyawan belum lama ini di Jakarta.

Berdasarkan kajian internal Dompet Dhuafa, donasi melalui platform digital meningkat hingga 80% dalam dua tahun terakhir. “Kami mencatat, 60% dari generasi muda berdonasi melalui platform digital. Jumlah ini cenderung naik tiap bulannya,” ujarnya.

Generasi muda yang dimaksud berusia 17-30 tahun, dengan rata-rata donasi Rp 30 ribu. Seiring dengan perkembangan tersebut, Dompet Dhuafa menggandeng platform digital seperti e-commerce, fintech pembayaran, bank, dan lainnya.

Dompet Dhuafa pun mencatat ada Rp 10 miliar atau sekitar 3,7% dari total zakat Rp 270 miliar, disalurkan melalui e-commerce pada 2017. Sementara data menunjukkan pemberian zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara langsung ke kantor cabang Dompet Dhuafa menurun dari Rp 1,5 miliar menjadi Rp 700 juta di tahun lalu.

Menurut laporan Kitabisa.com, tren donasi online meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2017-2018.

Tren donasi online juga digarap serius oleh perusahaan penyedia layanan on-demand, Gojek. Head of Third Party Platform Gojek Sony Radhityo mencatat, donasi yang dihimpun Gojek pada Ramadan tahun lalu naik 12 kali lipat dibanding periode sama di 2017. Karena itu, Gojek merilis fitur khusus donasi yang disebut Go-Give. Untuk menyediakan layanan ini, Gojek menggandeng Kitabisa.com.

“Inilah wujud nyata bagaimana kami memetakan kebutuhan yang ada di masyarakat dan berinovasi untuk menghadirkan solusinya,” kata Sony.

Selain itu, OVO, Tokopedia, dan Grab berkolaborasi mengadakan program ‘Patungan untuk Berbagi’. Pengguna pun bisa berdonasi melalui ketiga aplikasi tersebut. Uang yang terkumpul akan disalurkan untuk mendukung pendidikan anak-anak di Indonesia.

Co-Chair Badan Pengarah Filantropi Indonesia Erna Witoelar mengatakan bahwa potensi donasi di Indonesia bisa mencapai Rp 200 triliun setahun. Namun, saat ini yang terkumpul hanya sekitar Rp 6 triliun setahun. “Adanya (platform online) ini akan mempercepat jumlah dan kualitas (donasi). Beberapa tahun terakhir, donasi meningkat,” ujarnya.

Kementerian Sosial berencana mengusulkan revisi aturan terkait donasi yang dinilai tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Regulasi yang dimaksud adalah Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang.

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL