Linkendln: 50% Orang Indonesia Ingin Merintis Bisnis Sendiri

Linkendln: 50% Orang Indonesia Ingin Merintis Bisnis Sendiri

youngster.id - Linkendln merilis studi perdana berjudul ‘LinkedIn Opportunity Index’. Dari data yang diperoleh Indonesia menjadi negara yang paling percaya diri dalam menatap masa depan. Bahkan 50% dari responden Indonesia ingin merintis bisnis sendiri. Hal ini didorong oleh rasa percaya diri masyarakat Indonesia terhadap potensi pertumbuhan ekonomi negara.

Kondisi ini bertolak belakang dengan negara-negara maju seperti Jepang, Hongkong dan Australia. Masyarakat di ketiga negara tersebut menunjukan kecemasan yang lebih tinggi terhadap kondisi perekonomian negara masing-masing, dan secara umum lebih mengelola ekspektasi mereka terhadap akses untuk meraih peluang yang relevan.

Oliver Legrand Managing Directory Linkedln ini Asia menjelaskan, studi ini melibatkan sembilan negara di kawasan Asia Pasifik (APAC) di mana LinkedIn memiliki 153 juta pengguna, termasuk diantaranya 11 juta pengguna yang berasal dari Indonesia. Indeks ini dijadikan tolok ukur untuk memahami bagaimana masyarakat melihat peluang di masa depan dan juga hambatan-hambatan dalam meraihnya.

“Karena melalui studi perdana LinkedIn Opportunity Index, kami berusaha memahami aspirasi masyarakat di kawasan Asia Pasifik, tentang kesempatan dalam meraih berbagai peluang di masa depan, dan juga hambatannya,” ujar Oliver Legrand melalui keterangan pers nya Rabu (28/11/2018).

Hasil studi itu juga menunjukkan sebanyak 38% responden di Indonesia mengatakan, peluang untuk bisa menggunakan kemampuan mereka sebagai aspirasi mereka tertinggi setelah peluang merintis bisnis milik sendiri.

Kondisi ini tidak mencerminkan aspirasi responden lainnya di tingkat regional, di mana peluang untuk menjaga keseimbangan kehidupan karier dan personal menjadi aspirasi tertinggi (dinyatakan oleh 40%) bagi rata-rata responden di Asia Pasifik – sedangkan di Indonesia hanya dinyatakan oleh 34% responden.

Lebih lanjut, Olivier menambahkan bahwa pertumbuhan jumlah tenaga kerja di Asia Pasifik sejatinya bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional, jika dikelola secara efektif.

“Dengan memetakan serta memahami persepsi dan aspirasi masyarakat terhadap peluang di masa depan dan juga hambatannya, seiring waktu, kami berharap dapat memfasilitasi penawaran dan permintaan peluang yang lebih seimbang di pasar,” tambahnya.

Lebih dari itu, 82% orang Indonesia menyatakan bahwa mereka juga turut membantu orang lain untuk terhubung dengan kesempatan kerja yang lebih baik. Diantara mereka, lebih dari setengah (sebanyak 56%) menyatakan bahwa mereka membantu memperkenalkan kerabat mereka ke orang yang tepat agar bisa meraih kesempatan kerja, sementara 47% menyatakan bahwa mereka telah menuliskan surat referensi kerja bagi kerabat mereka.

Data ini merefleksikan kultur Gotong Royong yang telah melekat di masyarakat Indonesia, terutama dalam mencapai suatu tujuan, dan juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam membantu orang Indonesia untuk terhubung serta meraih kesempatan di masa depan.

“Hambatan-hambatan yang dikemukakan dalam hal mengejar peluang hidup memang nyata terjadi. Meskipun kawasan ini menunjukan keberagamannya keberagaman, namun jika kita menelisik lebih dalam terdapat lebih banyak kesamaan ketika berbicara tentang aspirasi dan harapan. Kabar baiknya, apapun arti dari peluang bagi masing-masing, kita selalu dapat menemukan komunitas yang bisa membantu kita. Baik itu untuk mempelajari keahlian baru, menjalin relasi, berbagi ilmu/pandangan, kita dapat saling membantu membuka peluang bagi semua, untuk terhubung dan meraih peluang,” pungkas Legrand.

FAHRUL ANWAR

KATEGORI ARTIKEL