Menyimak Seberapa Besar Pengaruh Perang Dagang AS dan Tiongkok terhadap Pasar Komoditas

Menyimak Seberapa Besar Pengaruh Perang Dagang AS dan Tiongkok terhadap Pasar Komoditas

Bagaimana kronologi perang dagang Amerika Tiongkok? Seperti apa pengaruhnya bagi harga komoditas dunia dan Indonesia?

Hubungan ekonomi 2 negara adidaya dunia, AS dan Tiongkok makin memanas ketika di bulan Mei 2019 ini keduanya saling berbalasan menaikan tarif impor.

Diperkirakan konflik ini bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Efeknya pun bisa menyebar ke berbagai negara yang tidak ikutan berperang.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Kronologi Perang Dagang Amerika Tiongkok

Secara sederhana perang dagang merupakan konflik perdagangan antar negara yang semulanya terjadi kerja sama ekonomi namun justru saling menyerang.

Seperti yang kita tahu, saat ini 2 negara dengan ekonomi terbesar dunia sedang tidak akur seperti yang terjadi pada AS dan Tiongkok. Keduanya saling berbalas menaikan pajak besar terhadap produk impor mereka secara besar-besaran.

Ketegangan ini dimulai ketika Presiden AS, Donald Trump kesal dengan neraca perdagangannya yang selalu defisit terhadap Tiongkok.

Menurutnya banyak perusahaan AS dirugikan karena kebijakan negara tirai bambu tersebut.

Misalnya dalam kasus pelanggaran hak cipta dan kekayaan intelektual. Tiongkok dinilai terlalu banyak memproduksi barang imitasi yang merugikan perusahaan AS.

Sehingga menurutnya, proteksionisme adalah langkah tepat untuk menyelamatkan AS dari persoalan ekonomi ini.

Menyimak Seberapa Besar Pengaruh Perang Dagang AS dan Tiongkok terhadap Pasar Komoditas 02 - Finansialku

[Baca Juga: Huawei di ‘Blacklist’ Akibat Perang Dagang Amerika-China]

 

Dalam menerapkan kebijakan ini, Trump merasa mengambil langkah yang tepat karena didukung oleh UU Perdagangan Tahun 1974 bagian 301.

Dalam Undang-Undang itu berisi jika ada suatu negara melakukan aksi yang merugikan perekonomian, maka AS berhak mempertahankan diri dengan memberlakukan pajak secara sepihak.

Pada 22 Januari 2018 lalu, AS menaikan bea masuk impor panel surya dan mesin cuci masing-masing menjadi 30 persen dan 20 persen.

Sebulan kemudian, AS juga kembali menaikan bea masuk produk baja Tiongkok menjadi 25 persen dan aluminum sebesar 10 persen. Tidak tinggal diam, Tiongkok juga membalas dengan menaikan 4 kali bea masuk produk impor asal AS.

Perang dagang seolah tak dapat dibendung, bahkan kian memanas.

Pada awal Mei 2019 lalu, Trump kembali menaikan lagi bea masuk bagi produk Tiongkok sebanyak US$200 miliar atau setara dengan Rp2.800 triliun dari 10 persen menjadi 25 persen lantaran Tiongkok dianggap menghambat jalannya negosiasi perang dagang.

Tak mau kalah, Tiongkok membalas perbuatan AS dengan menaikkan bea masuk dari 20 persen menjadi 25 persen bagi impor AS senilai US$60 miliar atau setara dengan Rp856 triliun.

Banyak pihak yang tidak ikutan perang menyayangkan perang dagang ini sebab dampak peperangan ini semakin lama semakin melebar.

International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia menilai perang dagang dapat menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi global.

Tak heran, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019 ini dari dari 3,5 persen ke 3,3 persen, sementara Bank Dunia menurunkan proyeksinya dari 3 persen menjadi 2,9 persen.

 

Pengaruh Komoditas

Kerja sama perdagangan antara AS dan Tiongkok telah berlangsung lama. Suka tidak suka, sebenarnya keduanya saling bergantung dan tentunya saling membutuhkan.

Efek perang dagang menyebar ke segala aspek terlebih pada komoditas yang menjadi salah satu inti perekonomian negara.

Sulit dipungkiri bahwa komoditas pertanian dan peternakan AS saat ini dalam kondisi sulit. Tiongkok adalah pengimpor terbesar hasil pertanian AS, terutama kedelai.

Data US Department of Agriculture menyebutkan bahwa pada Maret 2019, ekspor kedelai AS ke China mencapai 1,37 juta ton, menurun  31,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika AS terus galak terhadap China, maka aksi balas dendam dari Negeri Tirai Bambu bukan tidak mungkin berupa pengurangan pembelian kedelai hingga seterusnya.

Namun AS sudah siap dengan konsekuensi tersebut, meski harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Tiongkok adalah salah satu klien terbesar keempat AS dalam hal perdagangan hasil-hasil pertanian dan peternakan.

Produk-produk yang paling sering dikirim ke China adalah kedelai, kacang-kacangan, kasa, kulit, kapas, dan produk olahan babi.

Mengenal Seluk Beluk Kontrak Serah Komoditas (Forward Contract) 01 - Finansialku

[Baca Juga: Pengaruh Pola Musiman pada Harga Komoditas]

 

Sebelum terjadi ketegangan, produk-produk tersebut dibeli dengan jumlah besar oleh pemerintah Tiongkok. Tujuannya tentu saja untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Tapi sayangnya, sejak genderang perang diumumkan, Tiongkok juga menaikkan tarif tambahan untuk produk pertanian AS yang masuk. Alhasil kini, para petani-petani Amerika pun merasakan dampak penurunan penjualan.

Perdagangan lobster AS juga terkena dampaknya. Pemerintah Tiongkok telah menetapkan tarif impor tambahan sebesar 25 persen untuk produk lobster.

Alhasil para pemilik tambak lobster keteteran, dan terpaksa melakukan pengurangan karyawan besar-besaran demi menjaga bisnis tetap berjalan.

Pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan paket kebijakan yang bertujuan melindungi industri pertanian Negeri Paman Sam dari dampak perang dagang.

Paket tersebut bernilai US$16 miliar atau setara dengan Rp230 triliun untuk menyerap hasil pertanian seperti kedelai, jagung, dsb.

Prosesnya terdiri dari 3 paket, yang pertama akan dimulai Juli 2019. Dengan paket ini diharapkan dapat menjamin nasib petani atas kasus perang dagang.

Perang dagang AS Tiongkok ini juga berpengaruh pada komoditas energi. Harga minyak sempat turun hingga 5 persen pada pengumuman kebijakan kenaikan pajak.

Adanya kasus perang dagang menghambat perekonomian kedua negara sehingga rantai pasok global juga terdampak. Industri dan ekspor berbagai negara akan turun sehingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia bakal suram. 

Apabila aktivitas ekonom lesu, maka permintaan energi tentu ikut turun. Persepsi berkurangnya permintaan membuat harga minyak turun tajam. 

Namun penurunan harga minyak dunia bisa berdampak positif bagi Indonesia, sebagai negara importir minyak.

Di atas adalah contoh berbagai komoditas yang terkena dampak negatif dari efek perang dagang. Kecuali sektor logam mulia.

Pada 10 Mei lalu ketika Trump mengumumkan kenaikan bea masuk, emas langsung melonjak ke $1300/oz. Jika perang dagang benar-benar membawa ekonomi dunia menjadi resesi, emas diperkirakan akan melonjak hingga di atas $1350/oz.

 

Pengaruh pada Ekonomi Global

Bank Rakyat China (PBOC) memperingatkan bahwa ketidakpastian yang disebabkan oleh perang dagang antara Tiongkok dan AS dapat berdampak buruk pada ekonomi global.

Bank Sentral Tiongkok mengatakan, gesekan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan merupakan risiko utama yang mengancam ekonomi global.

Bagaimana Hubungan Inflasi dan Harga Komoditas 01 - Finansialku

[Baca Juga: Mayoritas Trader Komoditas Merugi! Mitos atau Fakta?]

 

Berbagai proses negosiasi dan adaptasi menimbulkan banyak ketidakpastian ekonomi global.

Amerika dan Tiongkok adalah 2 negara terkuat dalam hal ekonomi, dapat dikatakan seluruh negara bergantung pada kedua negara ini untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup negaranya.

Maka jika produksi dan ekonomi keduanya terganggu akan menimbulkan efek berantai pada negara-negara lain pula.

 

Pengaruh terhadap Indonesia

Tiongkok banyak menyerap produk ekspor dari Indonesia terutama bahan baku mentah. Bahan baku ini merupakan dasar untuk memproduksi berbagai produk yang kemudian ia ekspor ke negara lain.

Namun jika nilai ekspornya menurun karena perang dagang maka tentunya Tiongkok juga akan mengurangi impor dari Indonesia. Sehingga nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok turun dan memperlemah nilai ekspornya.

Tentu saja hal ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Meski demikian pemerintah Indonesia sudah menyadari kemungkinan ini. Sejauh ini ekonomi Indonesia masih dalam keadaan sehat.

Untuk merespon penurunan ekspor ke Tiongkok, Indonesia akan memperluas dan menjangkau negara-negara baru untuk menjadi tujuan ekspor baru.

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

 

Sumber Referensi:

  • Hidayat Setiaji & M Taufan Adharsyah & Anthony Kevin. 24 Mei 2019. Perang Dagang Masih Panas, Brexit tak Jelas. CNBC.com – http://bit.ly/2X4yofw
  • Rehia Sebayang. 7 Mei 2019. Trump Mengancam Lagi, Begini Kronologi Perang Dagang AS-China. CNBCIndonesia.com – http://bit.ly/2EyiW3X

 

Sumber Gambar:

  • Perang Dagang 1 – http://bit.ly/2HJhJc7
  • Perang Dagang 2 – http://bit.ly/2wmU3nx

 

KATEGORI ARTIKEL