5 Bukti Nyata Etnis Tionghoa di Masa Lalu yang Berjasa dan Setia Pada NKRI

5 Bukti Nyata Etnis Tionghoa di Masa Lalu yang Berjasa dan Setia Pada NKRI

Semasa kolonial Belanda masih mencengkram Indonesia sebagai wilayah jajahannya, ada banyak kalangan dari masyarakat yang kemudian bergabung dan bangkit untuk memerdekakan Indonesia. Salah satunya datang dari etnis Tionghoa yang pada saat itu bermukim di Tanah Air.

Salah satu yang berpengaruh adalah Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie. Perwira Angkatan Laut Indonesia yang berjasa besar saat masa perebutan kemerdekaan. Tak hanya dirinya, beberapa kegiatan dan aksi dari etnis Tionghoa lainnya yang mendukung Indonesia, membuktikan bahwa mereka berjasa sangat besar pada berdirinya negeri ini.

Koran Sin Po yang menyuarakan kemerdekaan Indonesia

Koran Sin Po yang bantu suarakan kemerdekaan Indonesia [sumber gambar]
Muncul pertamakali pada 1910, media cetak Sin Po telah menjadi coron bagi etnis Tionghoa untuk membantu menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Dilansir dari tirto.id, koran tersebut eksis selama 55 tahun (1910-1965) dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa. Selama terbit yang dicetak dalam format mingguan (weekblad) yang kecil dan sederhana, Sin Po menaruh perhatian khusus terhadap pergerakan kemerdekaan kaum bumiputra. Tak heran jika koran tersebut menganjurkan agar kaum Tionghoa dan lokal Indonesia dapat saling mendukung perjuangan masing-masing, berdasarkan persamaan nasib sebagai korban penindasan kolonialisme.

Dokter Oen Boen Ing yang menolong tentara Republik tanpa pamrih

Dokter Oen Boen Ing di ruang kerjanya [sumber gambar]
Selain koran Sin Po, sumbangsih etnis Tionghoa juga datang dari dunia kesehatan lewat sosok Dr. Oen Boen Ing. Laman tirto.id menuliskan, selama masa perang kemerdekaan di Surakarta, Dr. Oen banyak mengobati pejuang dan pengungsi yang terluka, tanpa pandang bulu. Alhasil, sosoknya sempat masuk dalam daftar intel Belanda (laporan Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS/Dinas Intelijen Tentara Belanda) bertajuk “Doktoren te Soerakarta” (24 Desember 1948). Kisah heroiknya yang lain adalah, rela mempertaruhkan nyawa dengan keluar-masuk zona merah dan jasanya menyelundupkan penisilin bagi Jenderal Soedirman yang saat itu tengah menderita TBC.

Jasa besar orang Tionghoa di balik lagu kemerdekaan Indonesia Raya

Piringan hitam Indonesia Raya hasil rekaman Yo Kim Tjan [sumber gambar]
Masyarakat Indonesia lebih akrab dengan nama W.R Supratman yang berjasa dalam menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Namun di balik itu semua, ada jasa seorang Tionghoa bernama Yo Kim Tjan yang ikut berperan dalam proses hadirnya instrumen nasional tersebut. Sumber tirto.id menuliskan, Supratman sempat melakukan proses rekaman yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi di kediaman Yo Kim Tjan di Jalan Gunung Sahari 37, Batavia dengan bantuan seorang ahli dari Jerman. Sayang, Polisi Belanda sempat mengetahuinya dan menyita seluruh rekaman yang dibuat. Saat Jepang menduduki Indonesia, Supratman meminta kepada Yo Kim Tjan untuk menyelamatkan satu-satunya master yang tertinggal.

Berjuang mengikuti arus revolusi dengan pena ala Kwee Kek Beng

Kwee Kek Beng dan karyanya di koran Sin Po [sumber gambar]
Lahir di Batavia pada 16 November 1900, Kwee Kek Beng merupakan sosok pahlawan yang bersenjatakan pena untu melawan kolonialisme Belanda. Laman tirto.id menuliskan, lulusan Hollandsch Chineesche Kweekschool (HCK) di Jatinegara itu merupakan seorang jurnalis yang kemudian diangkat menjadi Pimpinan Redaksi Sin Po pada 1925-1947. Tulisannya yang dikenal tajam dan sarat kritik, dikenal mempopulerkan beragam istilah Melayu-Betawi. Sebagai Pimpinan Redaksi dari koran bergengsi, Kwee Kek Beng juga menjalin pertemanan dengan tokoh-tokoh nasionalis Indonesia seperti Sukarno, Mr. Sartono, dan W.R. Supratman.

Nyonya Lie Tjian Tjoen yang menjadi pahlawan bagi kaum perempuan dan anak yatim

Nyonya Lie Tjian Tjoen pahlawan wanita dan anak yatim piatu [sumber gambar]
Bisa dibilang, sosok Nyonya Lie Tjian Tjoen merupakan wanita yang berjasa pada banyak anak yatim piatu yang terlantar di Indonesia. Saat meletusnya Perang Dunia I pada Juli 1914, banyak anak-anak telantar di Hindia Belanda. Dilansir dari tirto.id, wanita kelahiran Desa Karangsambung, Majalengka pada 24 Februari 1889 itu, Tehuis voor Chineesche Meisjes (Rumah Piatu untuk Perempuan Tionghoa) dan diresmikan pada 17 Oktober 1917. Dalam perjalanannya, Nyonya Lie banyak menyelamatkan anak-anak yang terlantar dan para perempuan yang mengalami kekerasan dan menjadi korban perdagangan manusia.

BACA JUGA: 6 Orang-orang Berdarah Tionghoa yang Berjasa Besar Untuk Indonesia

Sayang, jasa para pahlawan di atas harus terkubur seiring dengan makin maraknya isu rasial berlatar etnis Tionghoa yang ada di Indonesia. Padahal, mereka bahu membahu satu sama lain di masa lalu-tak peduli warna kulit, keturunan dan asal mereka, agar bisa sama-sama merasakan kemerdekaan. Oleh sebab itu, saatnya menghentikan permasalahan berlatar SARA yang justru dapat memecah belah masyarakat dan mengancam keutuhan NKRI.

KATEGORI ARTIKEL