Kelas Menengah (Ngehe)?

Kelas Menengah (Ngehe)?

Teknologi berevolusi dan dunia beradaptasi begitu juga manusia, dari yang dulu susah banget dokumentasi, sekarang berlomba eksis di media sosial. Sudah gak kenal kalangan lagi mau upper class, middle atau low class, masing-masing punya circle nya sendiri untuk show off.

Paling enak dibahas ini yang kelas menengah ngehe, kenapa? Baca sampai habis ya artikel ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Lifestyle (rev)

 

Kelas Menengah Ngehe Itu Apa?

Keadaan ekonomi Indonesia membaik, dengan naiknya pendapatan perkapitanya. Pengertian pendapatan perkapita merupakan pendapatan dari rata-rata penduduk dalam sebuah negara pada suatu periode tertentu.

Pendapatan perkapita tahun 2000 hingga sekarang 2019 naik, sehingga bertambah banyak masyarakat yang naik kelas ekonominya, dari yang kelas bawah naik ke kelas menengah (ngehe).

Lakukan 5 Gaya Hidup Hemat Ala Ibu Rumah Tangga Jepang Demi Kesejahteraan Keuangan 3 Finansialku

[Baca Juga: Beli Aset yang Menghasilkan Pendapatan Pasif, Bisa Makin Kaya Lho!]

 

Menurut Bapak Agung Wasono, Direktur Eksekutif Lembaga Analisa Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik (LANSKAP), 2016, yang dimaksud dengan kelas menengah “ngehe” adalah golongan kelas yang memiliki pendapatan cukup baik (menengah) akan tetapi cara berpikir (mindset) mereka masih seperti golongan kelas bawah yang serba kekurangan dan cenderung tidak peduli dengan orang lain.

Kelas menengah ngehe adalah mereka yang masih mengharapkan bantuan atau subsidi pemerintah, seperti subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), meskipun mereka sebenarnya termasuk tidak layak untuk mendapatkan fasilitas tersebut.

Dengan kata lain secara ekonomi mereka sudah mulai membaik tetapi dalam bersikap, terutama kepekaan sosial masih sangat minim.

 

Apakah Kamu Termasuk Kelas Kelas Menengah Ngehe?

Sudah baca story mimin di Instagram Finansialku mengenai Julia belum? Nah Julia itu termasuk kelas menengah ngehe, bahkan lebih buruk. Ciri-cirinya antara lain adalah:

  1. Punya kendaraan pribadi,
  2. Punya smartphone,
  3. Punya budget untuk makan di restoran

Pengeluaran konsumtif yang mencapai Rp100.000 s/d Rp. 400.000 per hari atau lebih.

Prioritas keuangan kelas menengah ngehe ini tujuannya bukan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, namun menjadi pemenuhan untuk keinginan atau gaya belaka.

Lebih baik ‘makan gengsi’ daripada makan nasi, demi kelihatan gaya, ikutan trend, meski kantong megap-megap, gali lubang tutup lubang.

Tentu saja ada kelas menengah yang tetap menjadikan kebutuhan sebagai prioritas, yaitu mereka yang memahami pentingnya hidup sejahtera di masa depan.

Data riset di LIPI menyebutkan bonus demografi Indonesia akan mengalami puncaknya di tahun 2035.

Bonus demografi maksudnya adalah penduduk produktif yang menjadi inti penggerak kehidupan ekonomi suatu negara mempunyai perbandingan rasio 5:1. Kasus di Indonesia memperlihatkan bahwa jumlah penduduk usia produktif mencapai 62,7% dari keseluruhan jumlah populasi penduduk sebesar 240 juta orang pada tahun 2017-2018.

Diperkirakan, jumlah penduduk usia produktif tersebut mengalami tren kenaikan sebesar 10% setiap tahunnya hingga mencapai puncaknya pada tahun 2035.

Menurut Bapak Wasisto Raharjo Jati, Peneliti Pusat Penelitian Politik – LIPI, bonus demografi melahirkan generasi ‘kelas menengah ngehe’ yaitu kelas menengah Indonesia yang manja, konsumtif, dan juga anti terhadap perubahan.

Mereka lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan hidup sekunder daripada primer, mementingkan gaya hidup modern, dan update terhadap kemajuan media dan teknologi.

‘Kelas menengah ngehe’ menomorsatukan makan gaya daripada makan nasi.

Ibaratnya makan tidak lagi yang penting ‘kenyang’ kebutuhan makan terpenuhi dan hanya sesekali menjadi keinginan, tapi setiap saat sudah menjadi ‘makan apa, makan di mana, makan sama siapa’ untuk kepentingan publisitas di media sosial.

Hasilnya, selain membuat kantong jebol, juga hanya kenyang ‘like’ daripada kenyang perut, serta kebangkrutan yang akan mendera karena mengabaikan prinsip perencanaan keuangan jika tidak segera diantisipasi.

 

Cara Keluar Dari Kelas Menengah Ngehe

Gaya hidup kelas menengah ngehe yang konsumtif merupakan suatu kebiasaan buruk yang harus dihindari, dicegah dan disalurkan ke dalam hal yang positif.

Cara mengatur keuangan untuk ‘kelas menengah ngehe’ yaitu dengan mengarahkan untuk menghabiskan uangnya untuk investasi.

Beberapa di antaranya adalah investasi pada diri sendiri, benda investasi seperti logam mulia dan paper asset. Tentu sebelumnya telah dilakukan pemenuhan prioritas keuangan untuk pemenuhan kebutuhan hidup.

 

Investasi pada Diri Sendiri

Supaya tetap menerapkan gaya hidup konsumtif dan manja, kelas menengah ngehe juga harus dermawan.

Yaitu melalui investasi ilmu untuk diri sendiri, sebagai modal dari gaya ngehe tersebut. Hal utama adalah memahami ilmu merencanakan keuangan, agar kebutuhan ilmu dan ngehe eksisnya sama-sama terpenuhi.

Sahabat Finansialku bisa preorder buku yang ditulis oleh Melvin Mumpuni yaitu Make a Plan and Get Your Financial Dreams Come True melalui media sosial Instagram Finansialku @Finansialku_com.

Investasi ilmu yang lain, misalnya untuk mendukung kenarsisan diri, barang, makanan dan tempat yang dishare setiap saat, maka perlu investasi dalam bentuk ilmu fotografi, ilmu menulis dan memperluas pergaulan demi likes di feed yang hakiki.

 

Investasi dalam Bentuk Logam Mulia

Selain konsumtif, kelas menengah ngehe juga bisa menyalurkan langsung dengan benda investasi yang riil, seperti perhiasan emas, logam mulia, dinar, dirham, dll. Sekarang ada P2P yang nabung emas, termasuk jual beli emas dan bisa dicetak emasnya.

 

Investasi dalam Bentuk Paper Asset

Investasi dalam bentuk reksadana, surat berharga negara atau saham sesuai dengan tujuan keuangan. Tidak asal pilih reksadana atau saham dengan modal ikut-ikutan rekomendasi teman, saat lagi turun langsung mengeluh.

Namun perlu diingat sebelum melakukan tiga hal diatas, sudah seharusnya sudah mempunyai:

  1. Cashflow positif
  2. Tidak punya utang konsumtif.
  3. Memiliki dana darurat, sesuai dengan pengeluaran dan jumlah tanggungan.
  4. Memiliki asuransi kesehatan dan asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang sesuai.

 

Jika keempat hal tersebut belum dimiliki, maka ke-ngehe an itu akan bertahan lama, tetap terus bekerja keras, dan mungkin tanpa bisa pensiun sejahtera. Kamu juga bisa merencanakan keuangan kamu dengan membaca ebook dari Finansialku di bawah ini secara GRATIS.

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Umur 20 an

Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 20 an Perencana Keuangan Independen Finansialku 

 

Bagaimana tanggapan kamu mengenai artikel di atas? Bagikan artikel ini kepada teman dan kerabat kamu. Semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Yogie Fadila. Keluh Kesah Kelas Menengah Ngehe. Hipwee.com – http://bit.ly/2YJZSr5
  • Australia Plus ABC. 23 Mei 2016. Fenomena Kelas Menengah “Ngehe” Indonesia Dibahas di Sydney. News.detik.com – http://bit.ly/2XbXwRm
  • Illa Abdulrahman. 12 Mei 2017. Keuangan Untuk ‘Kelas Menengah Ngehek’. Finance.detik.com – http://bit.ly/2M4OGnB
  • Pradipa PR. 3 Juli 2016. NGOPI (Ngobrol Pintar): Kelas Menengah “Ngehe”, Akibat Pendidikan Tak Kritis. Youthproactive.com – http://bit.ly/2Mh2NGi

 

Sumber Gambar:

  • Kelas Menengah Ngehe – http://bit.ly/2WlHqI2

 

KATEGORI ARTIKEL