Innovation Challege 2018, Kompetisi Mencari Solusi Pasca Panen Perikanan

Innovation Challege 2018, Kompetisi Mencari Solusi Pasca Panen Perikanan

youngster.id - Indonesia adalah negara maritim dengan hasil laut yang melimpah. Sayang kelimpahan itu kerap menimbulkan masalah kerugian pasca-panen ikan laut segar di Indonesia. Untuk itu I-PLAN menggelar kompetisi Innovation Challege 2018, sebagai inisiatif untuk mencari solusi atas masalah kerugian pasca-panen ikan laut segar di Indonesia.

Setelah melewati proses seleksi yang ketat sejak November 2018, dewan juri akhirnya memilih delapan pemenang dari total 240 pendaftar yang berpartisipasi dalam kompetisi Innovation Challenge 2018.

“Setelah melihat banyaknya gagasan inovatif dari kompetisi ini, kami berharap para pemenang dapat memberikan dampak yang berkelanjutan dan terus mengembangkan teknologinya,” kata Soenan Hadi Poernomo, Ketua Forum Jejaring I-PLAN dalam keterangannya, Jumat (20/12/2018) di Jakarta.

Juara utama diraih oleh NOES+, Prominator, Maslaha, dan Portable Cool Box. NOES+ pembuat pengganti es menggunakan teknologi material PCMs (Phase Change Materials) yang memanfaatkan limbah kayu dan tebu untuk menjaga kualitas ikan. Sedang Prominator menyediakan armada roda tiga dengan boks penyimpanan dingin dan panel surya sebagai solusi transportasi dan distribusi ikan bagi UMKM Indonesia. Dan Maslaha menyediakan pengganti es berbahan kimia ‘food grade’ yang tahan hingga 24 jam dengan suhu -27 derajat celcius. Lalu Portable Cool Box menawarkan boks dengan sistem pendingin aktif yang menggunakan larutan NaCL (garam) sebagai bahan pendingin.

Soenan mengatakan, semua inovasi tersebut harus disertai dengan kajian terapan di lapangan, sehingga nilainya positif bagi semua pihak, baik produsen, pemasar, maupun konsumen, serta dari aspek nilai gizinya.

Sementara itu, gelar runner up diraih Table Cooler, Pung Pung Ice dan Ice Gel Pampers, ALTIS 2, serta Sarana Display Pemasaran Ikan Segar. Pemenang kompetisi Innovation Challenge berhak mendapatkan hadiah uang tunai masing-masing Rp 30 juta untuk pemenang utama dan Rp 20 juta untuk runner-up.

Para juara utama juga akan mendapatkan pendanaan maksimal Rp 1 miliar untuk melakukan uji coba di Surabaya dan Probolinggo dengan menggunakan prototipe yang sudah dibuat.

Tidak hanya itu, Nanyang Technological University (NTU) di Singapura–melalui inisiatif NTUit–akan mengajak para pemenang utama ke dalam program pelatihan selama 7 minggu di Jakarta, yang berfokus pada uji coba pasar dan komersialisasi.

Keempat juara utama lalu akan kembali berkompetisi pada Maret 2019 di Jakarta untuk memperebutkan hadiah utama senilai US$ 20.000 – US$ 30.000 (sekitar Rp 291 juta hingga Rp 437 juta).

Penjurian dilakukan oleh 5 juri yang ahli dalam bidangnya yaitu Dr. Marudut, BSc. MPS. dari Politeknik Kesehatan Masyarakat Kemenkes Jakarta II dan Dr. Artati Widiarti, Analyst of Market Development for Marine and Fisheries Products.

Kemudian Ravi Menon selaku Country Director Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Denny Thanoto, Country Principal dari Meloy Fund, dan Ir Budhi Wibowo, dan Ketua AP5I Indonesian Fishery Product Processing and Marketing Association.

 

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL