Hebatnya Ilhan Omar, Politikus Muslimah Wanita di AS yang Disegani Presiden Donald Trump

Hebatnya Ilhan Omar, Politikus Muslimah Wanita di AS yang Disegani Presiden Donald Trump

Tak banyak dari kalangan imigran muslim yang berhasil menembus ketatnya peta perpolitikan Amerika Serikat yang penuh dengan intrik dan konspirasi. Namun, keberadaan Ilhan Omar seolah menjawab hal tersebut. Dilansir dari laman bbc.com, ia merupakan seorang muslimah yang sukses ‘mengguncang’ dunia politik AS yang terpilih menjadi anggota Konggres di negeri Paman Sam tersebut.

Sebagai seorang imigran yang datang dari sebuah negeri di Afrika, keberhasilannya menaklukkan dunia politik dari negara adidaya seperti AS merupakan sebuah prestasi yang membanggakan. Terlebih, adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang membatasi kaum imigran muslim untuk datang mengad nasib ke AS. Seperti apa perjuangannya di negara superpower tersebut? Simak ulasan berikut.

Politikus muslimah yang datang dari keluarga imigran Afrika

Tak mudah menjalani kehidupan awalnya sebagai seorang wanita yang lahir di sebuah negara yang tengah dilanda konflik. Dilansir dari bbc.com, Omar merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir di Mogadishu, ibu kota Somalia pada 1981. Sayang, perang yang berkecamuk memaksa keluarganya untuk hijrah meninggalkan negeri tersebut.

Datang dari keluarga imigran asal Somalia [sumber gambar]
Alhasil, Omar yang dibesarkan oleh ayah dan kakeknya sempat tinggal di kamp pengungsi Kenya selama empat tahun sebelum pindah ke AS pada 1995. Sebelum terjun ke dunia politik, Omar yang kebetulan tinggal di Minnesota, bekerja di bidang pendidikan. Dari sinilah, ia kemudian secara perlahan mulai terjun ke dunia politik.

Sosok musllimah sekaligus warga AS kelahiran Afrika yang menjadi anggota Kongres AS

Saat memutuskan berkarir di dunia politik, Omar memulainya dengan menjalankan kampanye dewan kota. Laman bbc.com menuliskan, ia juga bekerja sebagai pembantu senior masalah kebijakan bagi politikus Minnesota dan memenangkan pemilihan badan legislatif di negara bagian tersebut pada 2016 silam.

Sukses terpilih menjadi anggota Kongres AS [sumber gambar]
Hebatnya, keberhasilan Omar dilakukan setelah ia sukses menumbangkan seseorang yang sudah menjadi wakil rakyat selama 44 tahun. Hal ini teradi lantaran Omar -yang dipercaya mewakili semangat anak muda, banyak mendapat simpati di wilayah tersebut. Bentuk, ide dan kebaikan yang diusungnya, menjadi penyebab ia mencalonkan diri. Posisi sebagai anggota Kongres pun berhasil ditembusnya

Suarakan hak-hak masyarakat dan ‘melawan’ kebijakan Presiden Donald Trump

Sebagai politikus muslimah yang masih berusia muda, Omar banyak mendapat simpati dari sesama imigran yang menginginkan kehidupan lebih baik di AS. Pandangan dan kebijakan yang diusungnya, sukses memikat hati para pendukungnya. Laman bbc.com menuliskan, Omar mendukung aturan seperti perluasan jaminan kesehatan, peningkatan pemeriksaan latar belakang pembelian senjata dan penghapusan badan Immigrations and Customs Enforcement (ICE).

Suarakan hak-hak dan kebijakan yang dianggap menentang Trump [sumber gambar]
Bahkan, ia secara tegas ‘menentang’ kebijakan Presiden Donald Trump soal pandangan keimigrasian yang cenderung mendiskreditkan para pendatang di tanah Amerika. Hal ini tergambar jelas pada saat orasi pidato kemenangannya. Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan imigran Somalia “menyebarkan pandangan ekstremis mereka yang diduga berafiliasi dengan ISIS.

Dikecam sekaligus diancam karena faktor Islamofobia di AS

Karena latar belakangnya yang seorang muslim dan dinilai sangat vokal menentang pemerintahan Trump, Omar pun kerap menghadapi beragam teror hingga ancaman pembunuhan. Baru-baru ini, seperti yang dikutip dari pikiran-rakyat.com, Patrick Carlineo, dari Addison, New York, ditangkap aparat berwajib dan didakwa melakukan panggilan telepon yang mengancam kantor Omar.

Dikecam dan diancam oleh mereka yang tidak menyukai dirinya [sumber gambar]
Carlieno sendiri, menggambarkan dirinya sebagai seorang patriot yang mencintai presiden dan membenci Muslim radikal di pemerintahan. Hal ini pun secara tidak langsung menyematkan predikat ‘radikal’ tersebut pada pribadi Omar, yang menjadi latar belakang dirinya untuk memulai ‘panggilan’ teror di kantor politikus muslimah yang berusia 37 tahun tersebut. Horornya lagi, pihak FBI menemukan senapan dan pistol kaliber 22 di kediaman Carlieno saat digeledah.

BACA JUGA: Sadiq Khan, Anak Sopir Bus yang Kini Jadi Walikota Muslim Pertama London

Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat tentu mempunyai standar tersendiri dalam dunia politik mereka yang didominasi oleh kaum kulit putih. Tentu saja, keberhasilan Ilhan Omar menembus ketatnya kompetisi tersebut, menunjukkan bahwa mereka yang datang sebagai imigran di negeri maju itu, juga memiliki kesempatan berkarir di dunia politik. Meski terlihat susah, kiprah wanita keturunana Somalia itu diharapkan membawa angin perubahan pada dunia perpolitikan Amerika Serikat.

KATEGORI ARTIKEL