Finansialku Podcast Eps 15 – Persentase yang Ideal Saat Mengatur Gaji

Finansialku Podcast Eps 15 – Persentase yang Ideal Saat Mengatur Gaji

Apakah kamu terbiasa mengatur gaji? Atau malah tidak pernah mengatur dan tidak tahu gaji habis kemana? Apakah ada angka-angka ideal dalam mengatur gaji?

Simak jawabannya pada rubrik Finansialku berikut ini!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Curhat Keuangan: Bagaimana Cara Mengatur Gaji 4 Jutaan

Sebelum bahas lebih detail, Sobat Finansialku dapat mengirimkan pertanyaan atau curhat keuangan melalui fitur TANYA PERENCANA KEUANGAN di Aplikasi Finansialku. Jangan lupa beri hashtag #CURHATKEUANGAN.

 

Salah satu curhatan kali ini adalah membahas:

Bagaimana cara mengatur gaji Rp4 jutaan.

 

Finansialku Talk Podcast juga dapat kamu dengarkan di:

Logo Spotify

Untuk curhat keuangan, silakan akses di Aplikasi Finansialku, menu Tanya Perencana Keuangan, kirim kode: PODCAST CURHAT.

Gunakan kode voucher FINPODCAST untuk DISKON 10% upgrade Aplikasi Finansialku.

 

Berapa pun jumlah gaji atau pemasukan, dapat diatur dengan menggunakan Anggaran (dalam bahasa Inggris disebut budgeting) dan catatan keuangan.

 

Banyak orang yang benci dan meremehkan kekuatan sebuah budgeting atau catatan keuangan. Saya tahu jawaban membuat anggaran dan catatan keuangan adalah solusi yang tidak keren.

Saya tahu apa yang kamu rasakan saat diminta membuat anggaran dan catatan keuangan.

 

Memang bukan hal yang mudah, karena dari kecil hingga dewasa kita tidak terbiasa melakukannya. Harus bawa kertas kemana-mana, simpan nota dan rekap di kertas atau spreadsheet (seperti Microsoft Excel).

 

Mulai dari sekarang, tinggalkan cara-cara lama tersebut karena sudah ada solusi yang lebih praktis. Kamu dapat menggunakan Aplikasi Finansialku untuk mulai membuat anggaran dan catatan keuangan.

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Dalam podcast kali ini saya akan bahas mengenai anggaran (budgeting) yang praktis dan sangat-sangat logika.

 

Orang Indonesia Tidak Suka Mencatat Pengeluaran

Teman-teman saya ingin memulai podcast ini dengan sebuah cerita pengalaman saya. Finansialku.com lahir dari sebuah tesis atau tugas akhir sewaktu saya kuliah master.

 

Saya membuat sebuah tulisan dan penelitian serta prototype dari Finansialku.com. Saat sidang pengujian, ada seorang penguji yang bertanya:

“Orang Indonesia tidak suka mencatat pengeluaran, kenapa repot-repot harus mencatat?”

“Saya cukup hire perencana keuangan seperti Mr. A dan semua masalah keuangan saya beres.”

 

Saya sempat DEFENSE dan kelewat menjadi OFFENSE, karena menurut saya pertanyaan itu tidak masuk akal sehat.

Saya tidak mendapatkan nilai A pada saat sidang tesis saya. Tapi saya bisa bangga Finansialku sekarang sudah bantu lebih dari 60.000 pengguna. Dan saya pribadi sudah membantu ribuan orang yang bertanya dari tiket.

 

Jujur saja saya tidak tahu dengan kondisi keuangan penguji saya, tetapi jelas dia tidak tahu cara kerja seorang financial planner.

 

Ketika financial planner mau membantu kliennya, mereka memerlukan data-data yang lengkap. Ibarat seorang dokter yang meminta rekam medis atau cek darah dan informasi detail, sebelum melakukan operasi.

Jangan Dianggap Sepele! Ini Tanda Anda Memiliki Gejala Asam Urat 03 Pemeriksaan Kesehatan - Finansialku

Financial Planner bekerja seperti seorang dokter

 

Menurut saya, jika kamu dan masyarakat Indonesia tidak terbiasa mencatat pengeluaran, itu tidak sepenuhnya salah kamu. Bisa jadi informasi-informasi di sekitar kamu dan materi-materi yang kamu dengar tidak mendorong untuk melakukan hal-hal yang benar.

 

Podcast kali ini saya ingin membahas, sebenarnya ide sederhana dalam perencanaan keuangan adalah KAMU MEMEGANG KENDALI KEUANGAN dan masalah mengenai PRIORITAS.

 

Persentase dalam Budgeting

Sekarang kita bahas memiliki PRIORITAS atau anggaran. Jujur saja saya bukan penganut sistem anggaran dengan sistem persentase. Ada yang bilang harus 20% untuk menabung dan sekian-sekian persen.

Dalam hal keuangan, ada beberapa orang hebat yang memberikan patokan, seperti Alexa Von Tobel dan Li Ka-Shing.

 

Alexa Von Tobel: 50:30:20

Menurut Alexa Von Tobel

  • 50% penghasilan kamu digunakan untuk kebutuhan hidup bulanan, seperti belanja rumah tangga, makan, listrik, air, telepon dan transportasi.
  • 30% penghasilan kamu untuk liburan, makan keluar bersama teman, shopping dan entertainment.
  • 20% penghasilan kamu untuk investasi dan tujuan keuangan masa depan seperti melunasi pinjaman, menyiapkan dana darurat dan persiapan hari tua (pensiun).

 

Li Ka-Shing 30%, 25%, 20%, 15% dan 10%

  • 30% penghasilan kamu digunakan untuk kebutuhan hidup bulanan, seperti belanja rumah tangga, makan, listrik, air, telepon dan transportasi.
  • 25% penghasilan kamu untuk investasi dan tujuan keuangan masa depan seperti melunasi pinjaman, menyiapkan dana darurat, modal usaha dan persiapan hari tua (pensiun).
  • 20% penghasilan kamu untuk mengembangkan network atau kenalan, contoh ikut klub para pebisnis, mentraktir rekan bisnis, ikut gym dan lain sebagainya.
  • 15% penghasilan kamu untuk mempelajari hal-hal baru, misal membaca buku, ikut seminar atau workshop.
  • 10% penghasilan kamu untuk liburan dan hadiah atas kerja keras terhadap diri sendiri.

 

Kisah Sukses Li Ka Shing, Orang Terkaya Di Asia 04 - Finansialku

Li Ka Shing adalah salah satu orang terkaya di Asia

 

Kamu lebih setuju mana, cara Alexa Von Tobel atau cara Li Ka-Shing?

Kalau kamu dengar sekilas, aturan budgeting Li Ka-Shing lebih ketat dibandingkan dengan Alexa Von Tobel.

 

Budgeting ala Finansialku

Bagaimana dengan budgeting ala Finansialku?

Setiap orang memiliki game plan masing-masing. Saya sendiri tidak bisa memaksakan model A atau model B. Menurut kami ada beberapa jenis pengeluaran yaitu:

 

Pengeluaran Produktif

Seluruh pengeluaran yang dapat bermanfaat untuk mendatangkan pemasukan atau membatasi kerugian kita di masa yang akan datang. Seperti berinvestasi, membayar premi asuransi dan melunasi pinjaman.

 

Pengeluaran Konsumtif

Seluruh pengeluaran yang dikonsumsi, baik dalam bentuk kebutuhan (needs) maupun keinginan (wants).

Sekarang fokusnya adalah penuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan produktif terlebih dahulu. Setelah itu baru masuk pengeluaran konsumtif. Dalam hal pengeluaran konsumtif, penuhi kebutuhan baru keinginan.

 

Di Aplikasi Finansialku, kami sudah menentukan urutannya:

  1. Pajak, karena penghasilan kamu pastinya sudah bersih dipotong pajak.
  2. Donasi, Zakat, Perpuluhan, Bederma, Charity untuk membantu sesama.
  3. Investasi untuk masa depan, jumlahnya sesuaikan dengan rencana keuangan dan/atau rencana investasi kamu.
  4. Premi asuransi.
  5. Bayar cicilan, utang atau pinjaman.
  6. Sisanya untuk kebutuhan hidup: pendidikan anak, listrik, air, telepon, liburan, makanan, kebutuhan keluarga dan lain sebagainya.

 

Bagaimana dengan Cicilan dan Utang?

Idealnya cicilan kita tidak lebih dari 35% penghasilan. Jika penghasilan kamu sebesar Rp10 juta, maka cicilan maksimal tidak lebih dari Rp3.500.000.

 

Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan ide cicilan konsumtif, karena cicilan konsumtif sangat membebani keuangan seseorang. Cicilan konsumtif adalah cicilan untuk membeli barang-barang yang tidak menghasilkan pemasukan.

 

Kesimpulan

Saya sendiri percaya, sebenarnya keuangan individu dan keluarga tidak sekaku keuangan perusahaan atau corporate finance. Ada dua kunci yang harus kamu miliki untuk sukses secara keuangan yaitu: Memegang Kendali 100% Keuangan Kamu dan Memiliki Prioritas.

 

Satu-satunya cara untuk memegang kendali 100% keuangan kamu adalah memiliki data keuangan dan prioritas. Kamu perlu catatan keuangan dan anggaran.

 

Jika kamu ingin membuat anggaran dan catatan keuangan dengan mudah, silakan gunakan Aplikasi Finansialku. Silakan download di Google Play Store atau akses melalui Aplikasi.Finansialku.com

 

Akhir kata Make a Plan and Get Your Financial Dreams Come True.

KATEGORI ARTIKEL