Dandhy Laksono, Sosok Di Balik Film Sexy Killers yang Sukses Bikin Hati Nurani Terguncang

Dandhy Laksono, Sosok Di Balik Film Sexy Killers yang Sukses Bikin Hati Nurani Terguncang

Pemutaran film dokumenter tentang industri pertambangan Indonesia yang berjudul Sexy Killers, sukses menggugah perasaan para penonton di indonesia. Menurut pantauan penulis, tayangan yang kini bisa diakses secara bebas pada kanal YouTube itu telah ditonton sebanyak 7,1 juta kali. Tentu saja, kesuksesan Sexy Killers tak lepas dari sosok Dandhy Laksono sebagai filmmaker dari tayangan dokumenter tersebut.

Sebagai seorang jurnalis yang kritis terhadap fenomena sosial di Indonesia, dirinya banyak membuat film-film dokumenter yang mengangkat ketimpangan dan isu-isu yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Dilansir dari tagar.id, Sexy Killers sendiri merupakan satu dari 12 film oleh-oleh Dandhy dan Ucok Suparta, dari perjalanannya mengelilingi Indonesia dalam ekspedisi Indonesia Biru yang dilakukan sepanjang tahun 2015.

Namanya semakin dikenal setelah merilis film Sexy Killers, yang pada saat itu didistribusikan secara terbatas pada acara nobar (nonton bareng) di 476 titik wilayah Indonesia pada tanggal 5-11 April 2019. Laman tagar.id menuliskan, Dandhy sendiri merupakan jurnalis senior yang dikenal sebagai wartawan, aktivis, sekaligus pendiri rumah produksi film dokumenter WatchDoc. Sosoknya disegani lantaran berani mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada di Indonesia.

Hal ini terekam saat dirinya pernah berurusan dengan Kepolisian Daerah Jawa Timur akibat unggahan status dalam laman pribadi Facebook-nya. Laman nasional.tempo.co menuliskan, ia dilaporkan ke polisi oleh Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur, organisasi sayap PDI Perjuangan karena dianggap menghina Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Oleh pelapor, Status Dandhy tersebut dinilai Repdem telah menebarkan kebencian pada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo.

Sosok kritis yang banyak menelurkan karya berupa film-film dokumenter berkualitas [sumber gambar]
Sebagai wartawan, Dandhy pernah bekerja di beberapa media cetak, radio, online dan televisi. Selain membuat film dokumenter, pria yang hobi bermain gitar itu juga pernah menulis buku yang berjudul ‘Indonesia for Sale’ dan Jurnalisme Investigasi’. Sosoknya lebih dikenal sebagai pendiri Watchdoc, sebuah rumah produksi audio visual yang didirikannya bersama Andhy Panca Kurniawan. Dimana keduanya sama-sama memiliki latar belakang sebagai seorang jurnalis.

Dikutip dari laman resmi Watchdog, rumah produksi ini telah membuat sebanyak 25 episode dokumenter dan 540 feature televisi. Bahkan, sebanyak 40 karya video komersial dan non-komersial yang diproduksinya pun telah memperoleh berbagai penghargaan. Alhasil, keberadaan Watchdog yang digawangi oleh Dandhy dan rekan-rekannya, dikenal sebagai pencipta sekaligus dikenal oleh pecinta film-film dokumenter.

Sempat dilaporkan ke Polisi [sumber gambar]
Selain Sexy Killers yang menyoroti sisi lain dari perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia, Dandhy yang dikenal kerap mengangkat tema sosial dalam film yang diproduksinya, pernah video dokumenter berjudul Jakarta Unfair. Sebuah tayangan yang bercerita tentang penggusuran oleh Pemerintah Jakarta tanpa solusi yang sepadan untuk korban yang terdampak. Juga ada film yang berjudul Samin vs Semen tentang protes pabrik semen, dan dokumenter Kala Benoa tentang aksi tolak reklamasi di Tanjung Benoa, Bali.

BACA JUGA: Menguak Sisi Lain dari Dokumenter ‘Sexy Killers’ yang Ramai Dibicarakan oleh Warganet

Dengan latar belakang sebagai seorang jurnalis, pemilik akun Twitter @Dandy_Laksono itu juga dikenal sebagai seorang aktivis yang cukup vokal pada isu-isu sosial. Hal ini terlihat pada video dokumenter yang dihasilkan oleh dirinya, yang banyak mengangkat tema dan isu sosial di masyarakat. Bisa dibilang, sosoknya menjadi salah satu jurnalis yang berani menyuarakan ketidakadilan pada rakyat kecil yang terkadang luput dari pantauan media.

KATEGORI ARTIKEL