Bully Aja I Don’t Care, Pesan Positif Dari Korban Perundungan

Bully Aja I Don’t Care, Pesan Positif Dari Korban Perundungan

youngster.id - Bully atau perudungan kembali menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Yang terbaru adalah kasus yang menimpa seorang siswi di Pontianak yang berakibat fatal. Namun masih ada harapan bahwa anak korban perundungan bisa bangkit dan berprestasi.

Kasus perundungan atau bullying pada anak, terutama di sekolah bukan hal baru di Indonesia. Bahkan United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada 2016 merilis, menempatkan Indonesia di peringkat pertama untuk soal kekerasan pada anak. 

Mirisnya, meski telah ada seruan untuk menghentikan perudungan anak, kondisi tersebut masih banyak dan terjadi di depan mata. Bahkan untuk urusan kekerasan di sekolah, Indonesia menempati posisi pertama di Asia dengan 84%. Jumlah lebih banyak dibandingkan Vietnam dan Nepal yang sama-sama mencarat 79%, disusul kemudian Kamboja (73%) dan Pakistan (43%). 

Salah satu anak yang mengalami kasus bully adalah Brandon Tanu. Pengalaman Brandon ini dituangkan dalam buku yang ditulis Dwi Sutarjantono berjudul Bully Aja I Don’t Care.

“Ini  merupakan kisah nyata dari Brandon Tanu yang dipandu mentornya yakni pakar marketing James Gwee hingga dia bisa menjadi lebih sukses menjalani hidupnya dan bersosialisasi dan melepaskan diri dari hambatan psikologis bullying,” ungkap Dwi pada peluncuran buku belum lama ini di La Moda Café, Jakarta.

Brandon adalah anak dari pengusaha muda bernama Wanda Ponika. “Meskipun ini biografi tetapi saya menuliskannya agak berbeda. Lebih sederhana, dari sudut tokohnya yakni Brandon Tanu yang memberikan saran-saran untuk teman-temannya yang juga mengalami masalah bullying,” kata Dwi.

Menurut Dwi anak yang di-bully maupun yang mem-bully sebenarnya mengalami masalah psikologis masing-masing yang sebenarnya bisa dibantu dengan pendekatan-pendekatan tertentu.

Brandon termasuk anak berkebutuhan khusus, karena hiperaktif sehingga ia kerap dianggap mengganggu teman-temannya di sekolah. Dan itu membuat dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sekitarnya.

Dalam buku ini Brandon mengungkapkan bagaimana tips menghadapi bully yang terjadi. “Tips pertama, bukan memberontak kepada bullying tapi hanya stand up for yourself untuk diri kita sendiri. Kita harus menyadari mengapa mereka bully kita. Karena mereka tidak punya apa yang kita punya,” ungkap Brandon.

“Jangan menyendiri, jangan takut berpendapat menyatakan opini. Jangan takut ‘ini opini gue, jangan takut dengan apa yang gue pikir’. Sering kali karena dibully, jadi dianggap opininya salah, mereka langsung jatuh. Terus kita harus belajar tidak mengeluarkan reaksi karena seorang bully tambah dibully ketika mereka melihat kita bereaksi,” ujar Brandon lagi.

Acara peluncuran buku yang dihadiri para selebritis ini juga dimeriahkan dengan pembacaan buku oleh penulis Alberthiene Endah dan Iwan Setyawan.

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL