Finansialku Berbagi Cerita Ramadan: Berjuang Ku Bantu Suami Ku

Finansialku Berbagi Cerita Ramadan: Berjuang Ku Bantu Suami Ku

Cerita Ramadan: Berjuang ku bantu suami ku adalah cerita seorang wanita tua yang sudah berkepala tujuh namun tetap harus berjuang berjualan cemilan demi membantu suaminya mencari uang.

 

Berjuang Ku Bantu Suami Ku

Seperempat bulan Ramadan sudah kulalui, setiap paginya ku rasa suhu dingin menusuki kulitku yang sudah berkeriput ini, tapi aku harus tetap semangat, aku tidak boleh mengeluh dan tetap berjuang..

Aku Rosita, seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, aku tidak bisa berjalan tegak dan cepat seperti saat muda dulu, ditengah usiaku yang sudah menginjak 70 tahun ini aku harus berjuang mencari tambahan penghasilan untuk kelangsungan hidupku dan suamiku.

Ya, tidak ada siapa-siapa, hanya kami berdua.. hanya aku dan suamiku.. tidak adanya keluarga selain diriku dan suamiku disini menuntut aku untuk bisa berjuang menghadapi semuanya.

Suamiku bekerja tidak menentu, kadang menjadi kuli, kadang menjadi tukang rongsokan, namun itu tidak menjadi masalah buatku, yang penting memiliki pekerjaan halal, dan kami masih bisa saling melengkapi satu sama lain itu sudah cukup.

 

Aku tidak ingin menyerah dengan keadaan, dengan kondisi badanku yang sudah tak sekuat dulu, aku harus pergi ketempat ku bisa berdagang menjajakan cemilan ke orang-orang banyak.

Ya, aku berjualan cemilan dengan menarik gerobak hijau yang sudah menemaniku beberapa tahun belakang ini.

Namun, meskipun sudah menemaniku selama bertahun-tahun, ini semua bukanlah milikku, aku hanya meminjamnya dan mengambil cemilan untuk dijual dan nanti disetor dan dikembalikan kembali ketika sore akan menyapa.

Jarak yang harus ku tempuh dari tempat tinggalku ke tempat ku berjualan menurutku cukup jauh, setiap harinya aku menaiki kendaraan umum dari rumahku untuk sampai ke tempat ku biasa berjualan menjajakan cemilan yang ku jual.

Aku tinggal di kopo kota Bandung, dan harus menempuh jarak sekitar 10km untuk berdagang mengitari daerah dago dan dipatiukur sejak pagi hingga siang hari cukup membuat kaki-kakiku ini lelah.

Pagi hari hingga siang hari ku kitari daerah dipati ukur dan dago kota Bandung, ketika siang menjelang sore aku harus kembali dan menyetorkan hasil jualananku kepada pemilik roda dan cemilan tempat aku membawanya.

Ditengah berbagai keterbatasan di bulan Ramadan ini, aku tidak pernah melewatkan untuk dapat makan berbuka puasa bersama dengan suamiku.

Ketika sore akan datang aku harus bergegas pulang kerumah untuk memasak makanan berbuka hasil dari perjuanganku berdagang cemilan seharian.

Menarik gerobak dari dinginnya pagi hingga terik matahari menyelimuti terkadang tidak semudah membalikan telapak tangan, kondisi ramai ataupun bahkan tidak ada yang membeli cemilanku pun pernah ku alami.

Namun, bagaimanapun kondisinya, ramai atau sepinya pembeli, seberapapun keuntungannya aku tetap bersyukur ‘Alhamdulillah’. Aku percaya, tuhan sudah mengatur rezeki untukku dan suamiku.

Aku berharap semoga aku dan suamiku tetap bisa menemui Ramadan-ramadan selanjutnya nanti.

Apakah cerita di atas cukup menginspirasi? Semoga cerita di atas bisa membuat kita semua belajar agar lebih bersyukur terhadap apa yang kita miliki ya..

Jika cerita di atas menginspirasi Anda, jangan lupa bagikan kepada teman dan kerabat Anda, semoga bermanfaat, terima kasih.

 

Sumber Gambar:

Dokumentasi Pribadi

 

Free Download Ebook Perencanaan Keuangan untuk Usia 30 an

Perencanaan Keuangan Untuk Usia 30 an - Finansialku Mock Up

 

KATEGORI ARTIKEL