10 Hoax Yang Berdampak di 2018

10 Hoax Yang Berdampak di 2018

youngster.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengumumkan 10 konten mengandung hoaks paling berdampak pada 2018. Dari yang menimbulkan keresahan dan ketakutan di sebagian kelompok masyarakat hingga menjadi perhatian nasional.

Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu menginformasikan, konten-konten tersebut diidentifikasi menggunakan mesin pengais konten Sub Direktorat Pengendalian Konten Internet, Direktorat Pengendalian Informatika Ditjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo.

Berikut daftar 10 Koten Hoax dari Kominfo :

1. Hoaks Ratna Sarumpaet

Kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet oleh sekelompok orang beredar pada Facebook, 2 Oktober 2018 di akun Swary Utami Dewi. Unggahan tersebut dilengkapi tangkapan layar aplikasi pesan WhatsApp dengan foto Ratna Sarumpaet. Setelah ramai dibicarakan, kepolisian menanggapi setelah melakukan penyelidikan karena menerima tiga laporan mengenai dugaan hoaks pada pemberitaan itu. 2. Hoaks Gempa Susulan di Palu

Beredarnya informasi seputar gempa susulan di Palu melalui WhatsApp berdampak langsung kepada korban gempa dan tsunami yang masih mengalami trauma. Dalam pesan tertulis itu, Palu dalam keadaan siaga 1 dan akan terjadi gempa susulan berkekuatan 8,1 SR dan berpotensi tsunami besar.

Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho megatakan melalui media sosialnya, “Faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan Iptek yang mampu memprediksi gempa secara pasti.”

3. Hoaks Penculikan Anak

Hoaks ini beredar di media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Whatsapp dan meresahkan masyarakat, terutama orangtua yang memiliki anak di bawah umur. Di Twitter, hoaks yang beredar menyatakan, pelaku penculikan anak tertangkap di Jalan Kran Kemayoran, Jakarta Pusat. Kapolsek Kemayoran, Kompol Saiful Anwar membantah hal itu, ia berkata, “Laki-laki yang terdapat dalam video tersebut adalah seorang tukang parkir yang mengidap gangguan jiwa.”

Tak hanya di Kemayoran, di beberapa daerah pun beredar hal serupa dengan tambahan ilustrasi gambar yang beragam. Bahkan, informasi bohong itu menjadi isu nasional dan membuat masyarakat khawatir dan resah.

4. Hoaks Konspirasi Imunisasi dan Vaksin

Salah satu hoaks tentang vaksin imunisasi yang berdampak besar, isu konspirasi penyebaran virus atau penyakit melalui vaksin karena mengandung sel-sel hewan, virus bakteri, darah, dan nanah. Isu tak benar tersebut menimbulkan dampak terhadap stigma masyarakat terhadap imunisasi. Masyarakat pun menjadi ragu untuk memberikan imunisasi pada anak-anak mereka.

5. Hoaks Rekaman Black Box Lion Air JT610

Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan laut Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018), menjadi isu yang banyak diperbincangkan di masyarakat. Bersamaan dengan itu, muncul beragam isu dalam bentuk berita, foto, dan video yang mengandung disinformasi dan hoaks. Black box Lion Air JT610 yang asli ditemukan oleh Tim SAR TNI AL di kedalaman 30 meter pada Kamis (1/11/2018) pukul 10.15 WIB. Tim tersebut dipimpin oleh Panglima Komando Armada I Laksamana Muda Yudo Margono.

6. Hoaks Telur Palsu atau Telur Plastik

Awal 2018, beredar kabar tentang telur palsu atau plastik yang dijual di pasar tradisional dan supermarket. Berbagai foto dan video terkait proses pembuatan telur palsu banyak diunggah di Youtube dan medsos. Beberapa mengatakan telur itu diproduksi oleh China. Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Mabes Polri turun ke lapangan untuk menyikapi berita tentang telur palsu itu. Ternyata, isu yang telah meresahkan masyarakat tersebut hoaks. Tak hanya merugikan masyarakat, peternak ayam dan penjual telur juga merasakan efeknya. 7. Hoaks Penyerangan Tokoh Agama sebagai Tanda Kebangkitan PKI

Isu lama ini semakin viral di 2018, mendekati tahun politik Indonesia. Beberapa kejadian pun dikaitkan dengan kebangkitan PKI. Pada awal 2018, terjadi pemukulan terhadap tokoh agama. Pelakunya ternyata orang gila.

Beberapa oknum menarasikan kejadian itu sebagai tanda kebangkitan PKI dan keresahan di publik pun timbul. Pasalnya, mayoritas masyarakat Indonesia tidak ingin partai komunis yang telah lama dibubarkan itu kembali bangkit.

8. Hoaks Kartu Nikah dengan 4 Foto Istri

Setelah Kemenag resmi menerbitkan kartu nikah untuk efisiensi dan akurasi data, beredar gambar kartu nikah berwarna kuning berlogo Kemenag di medsos. Terlihat ada empat kolom istri dan satu kolom suami dalam gambar itu, lengkap dengan nama dan tanggal pernikahan masing-masing istri.

Sebagian waeganet menganggap hal itu hanya lelucon, tetapi tidak sedikit yang menyimpulkan kartu itu sebagai legalitas untuk poligami. Tentunya, gambar tersebut tidak benar.

Bentuk kartu nikah yang diproduksi Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag berwarna dasar hijau dengan campuran kuning. Terdapat kop Kemenag di bagian atas, tiga kotak di bagian tengah yang terdiri atas dua kotak bagian atas untuk foto pengantin, sedangkan kotak bagian bawah akan diisi kode batang (barcode) yang dapat dipindai dan mengandung data lengkap tentang peristiwa nikah pemiliknya.

9. Hoaks Makanan Mudah Terbakar Positif Mengandung Lilin atau Plastik

Dalam informasi bohong yang beredar dikabarkan produk makanan tertentu mengandung lilin atau plastik, sehingga mudah terbakar. Bahkan, pada awal 2018 muncul isu adanya zat berbahaya dalam serbuk minuman kopi eceran. Hal tersebut banyak dibicarakan setelah beredar video berisi serbuk kopi yang membuat nyala api makin besar dan menyambar.

Keresahan di publik pun tak dapat dihindari. Banyak masyarakat yang menggunakan teknik yang sama untuk membuktikan kandungan lilin atau plastik dalam merek tersebut.

Melalui situs resmi, BPOM menjelaskan, hal itu tidak benar karena semua produk pangan memiliki rantai karbon. Tak hanya itu, pangan juga mengandung lemak atau minyak dengan kadar air rendah, khususnya yang berbentuk tipis dan berpori seperti kerupuk, crackers, dan makanan ringan lain, pasti dapat menyulut api.

10. Hoaks Telepon Disadap dan Chat di WhatsApp Dipantau Pemerintah

Lagi, kabar tak benar ini beredar melalui pesan berantai (broadcast) di aplikasi perpesanan. Informasi ini mengatakan, pengguna ponsel akan dipantau oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), mulai dari panggilan telepon hingga medsos. Kebijakan itu dikabarkan berkaitan dengan peraturan komunikasi baru dan jaringan keamanan dari BSSN.

Berbagai pertanyaan pun muncul di benak pengguna medsos. Kebijakan yang tak jelas sumbernya itu membuat warganet resah karena merasa privasinya terancam. Tentu saja, informasi tersebut tidak benar adanya.

STEVY WIDIA

KATEGORI ARTIKEL